kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.709.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.930   -82,00   -0,46%
  • IDX 6.018   132,14   2,24%
  • KOMPAS100 800   25,11   3,24%
  • LQ45 604   17,00   2,90%
  • ISSI 207   5,85   2,91%
  • IDX30 344   9,29   2,78%
  • IDXHIDIV20 424   9,69   2,34%
  • IDX80 91   2,80   3,19%
  • IDXV30 114   3,44   3,12%
  • IDXQ30 111   2,55   2,36%

Kelas Menengah Indonesia Menyusut, Bank Dunia Ungkap Penyebabnya


Jumat, 12 Juni 2026 / 08:51 WIB
Kelas Menengah Indonesia Menyusut, Bank Dunia Ungkap Penyebabnya
ILUSTRASI. Upah Pekerja Sarjana-Pekerja komuter di Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih diperkirakan bertahan di kisaran 5% dalam beberapa tahun ke depan belum cukup menjamin menguatnya kelas menengah.

Bank Dunia menilai tekanan terhadap kelompok ini masih besar akibat melemahnya kualitas lapangan kerja dan menurunnya pendapatan riil pekerja berkeahlian menengah hingga tinggi.

Dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026, Bank Dunia mengungkapkan bahwa penurunan upah riil dan terbatasnya penciptaan lapangan kerja formal berkualitas menjadi risiko domestik yang dapat memperburuk kondisi ekonomi sekaligus menghambat perluasan kelas menengah.

Data Bank Dunia menunjukkan upah riil pekerja berkeahlian menengah mengalami penurunan rata-rata sekitar 1% per tahun sepanjang 2018-2025.

Baca Juga: Ekonomi Indonesia 2026: Bank Dunia Pangkas Proyeksi, Pemerintah Optimistis!

Sementara itu, upah riil pekerja berkeahlian tinggi turun lebih dalam, yakni sekitar 2% per tahun.

Tren tersebut turut menekan pertumbuhan upah secara keseluruhan, yang tercatat menyusut sekitar 0,5% per tahun berdasarkan pertumbuhan tahunan gabungan atau compound annual growth rate (CAGR) median upah riil.

Di sisi lain, pekerja berkeahlian rendah justru mencatat kenaikan upah rata-rata sekitar 1,7% per tahun. Namun, perbaikan pada kelompok ini belum mampu menahan penyusutan kelas menengah.

Dalam periode yang sama, proporsi pekerja yang masuk kategori kelas menengah turun tajam dari 14,5% pada 2018 menjadi hanya 7,1% pada 2025.

Bank Dunia menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari terbatasnya lapangan kerja formal yang mampu menyerap tenaga kerja berpendidikan tinggi. Akibatnya, semakin banyak lulusan pendidikan tinggi yang beralih ke sektor informal.

Baca Juga: Bank Dunia Ungkap Proyeksi: Separuh Negara Maju Untung, Negara Berkembang Stagnan

Porsi lulusan perguruan tinggi yang bekerja di sektor formal bergaji tercatat turun dari 74,1% pada 2018 menjadi 67,8% pada 2025.

Tren serupa juga terjadi pada lulusan pendidikan menengah atas, di mana proporsi mereka yang bekerja di sektor formal bergaji menyusut hampir tujuh poin persentase dalam periode yang sama.

Sebagian lulusan perguruan tinggi masih mampu masuk ke kategori pekerjaan informal tingkat atas. Proporsinya meningkat dari 6,7% menjadi 8,9% sepanjang 2018-2025.

Namun, pekerja dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah tidak memiliki banyak pilihan selain masuk ke pekerjaan informal tingkat bawah yang umumnya menawarkan pendapatan lebih rendah dan perlindungan kerja yang terbatas.




TERBARU

[X]
×