Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Inflasi Amerika Serikat (AS) yang melandai pada Juli 2026 memberikan ruang bagi The Federal Reserve (The Fed) untuk menunda pengetatan kebijakan moneter.
Kondisi tersebut dinilai dapat memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan Indonesia, terutama melalui penurunan tekanan terhadap rupiah dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).
Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz, mengatakan inflasi AS yang lebih rendah mengurangi urgensi The Fed untuk segera menaikkan suku bunga.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.877, Inflasi AS Jadi Penentu Begini Proyeksi Kamis (13/8)
Inflasi AS pada Juli hanya naik 0,1% secara bulanan atau 3,4% secara tahunan, sementara inflasi inti meningkat 0,2% secara bulanan atau 2,5% secara tahunan.
Menurutnya, kondisi tersebut, ditambah dengan tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja AS, memberikan ruang bagi The Fed untuk menunggu dan melihat perkembangan data ekonomi sebelum mengambil kebijakan pengetatan lebih lanjut.
Bagi Indonesia, Faiz menilai kondisi tersebut memberikan bantuan jangka pendek bagi rupiah dan pasar SBN. Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang lebih rendah pada September dapat meredam tekanan terhadap imbal hasil US Treasury (UST) dan dolar AS.
“Ini memberikan memberikan dukungan bagi aset dan aliran portofolio di pasar negara berkembang,” kata Faiz dalam keterangannya, Kamis (13/8/2026).
Dengan tekanan eksternal yang sedikit mereda, kondisi tersebut juga dapat mendukung aliran modal portofolio ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Namun, ia menekankan bahwa risiko eksternal belum sepenuhnya hilang karena pasar hanya menunda, bukan menghapus, ekspektasi pengetatan The Fed.
Baca Juga: Rupiah Melemah Menjadi Rp17.877, Pasar Waspadai Geopolitik dan Inflasi AS
Karena itu, perbedaan suku bunga antara AS dan Indonesia masih menjadi salah satu kendala yang perlu diperhatikan.
Penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil UST, harga minyak yang tinggi, maupun pelemahan arus portofolio tetap dapat kembali menekan pasar keuangan domestik.
Di sisi kebijakan moneter, kondisi tersebut memberikan ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga tanpa harus melakukan pengetatan lebih lanjut dalam waktu dekat.
Faiz memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga kebijakan di level 5,75% pada Agustus 2026 dan lebih mengandalkan kebijakan non-suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah.
Meski demikian, ruang pengetatan belum sepenuhnya tertutup. Jika tekanan eksternal kembali meningkat, BI berpotensi menaikkan suku bunga hingga 6,25% pada akhir tahun.
Baca Juga: Dolar AS Menguat di Tengah Ketegangan Teluk, Pasar Tunggu Data Inflasi AS
“Sambil tetap mempertahankan opsi untuk melanjutkan pengetatan di akhir tahun ini, berpotensi hingga 6,25%, jika tekanan eksternal meningkat melalui penguatan dollar AS, imbal hasil UST yang lebih tinggi, harga minyak yang tinggi, atau arus portofolio yang lebih lemah,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
