kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.904.000   -43.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.867   24,00   0,14%
  • IDX 8.219   -46,79   -0,57%
  • KOMPAS100 1.159   -9,20   -0,79%
  • LQ45 830   -8,91   -1,06%
  • ISSI 295   -1,13   -0,38%
  • IDX30 433   -3,16   -0,73%
  • IDXHIDIV20 517   -3,83   -0,74%
  • IDX80 129   -1,09   -0,83%
  • IDXV30 143   -0,18   -0,13%
  • IDXQ30 140   -1,43   -1,02%

Jadi Ancaman Pasar Domestik, Jokowi Minta Waspadai Over Produksi Barang dari China


Kamis, 10 Oktober 2024 / 07:00 WIB
Jadi Ancaman Pasar Domestik, Jokowi Minta Waspadai Over Produksi Barang dari China
ILUSTRASI. Presiden RI Joko Widodo mengunjungi Booth MS GLOW di TEI 2024. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoroti masalah over produksi di China karena bisa ancam pasar domestik.


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - TANGGERANG. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoroti masalah over produksi di China.

Menurutnya hal ini, dapat menjadi ancaman bagi semua negara termasuk Indonesia, lantaran China bisa saja membanjiri pasar domestik.

"Banyak negara yang sudah mulai khawatir dan bersiap melindungi pasar domestiknya, dari masuknya produk impor dari China yang masif dengan harga lebih murah," kata Jokowi dalam pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) 2024, di ICE BSD, Tanggerang Selatan, Rabu (9/10).

Eks Gubernur DKI Jakarta ini juga bilang Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk besar harus mampu melindungi produk lokal di pasar domestik. Lebih dari itu, produk asli dalam negeri harus bisa menguasai pasar global.

Baca Juga: Transaksi Trade Ekspo Indonesia Melonjak 21 kali Lipat dalam Satu Dekade

Untuk itu, Jokowi berpesan agar dalam melakukan pemasaran tidak lagi menggunakan cara-cara konvensional.

"Pemasaran harus juga masif lewat digital," jelasnya.

Jokowi mengingatkan bahwa saat ini kondisi ekonomi global belum kembali pulih. Mulai dari pertumbuhan ekonomi global yang hanya 2,6 - 2,7 %, inflasi yang masih berlanjut, hingga konflik geopolitik yang terus memanas.

Hal itu membuat banyak negara melakukan kebijakan restriksi perdagangan akan berbagai produk mereka. Sehingga membuat volume perdagangan global kian lesu.

"Setidaknya ada 19 negara uang melakukan ini, semua membuat perdagangan global jadi lesu," tutupnya.

Baca Juga: Indonesia Satu-satunya Negara Asia Pasifik yang Ekonominya Pulih Sebelum Pandemi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×