kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45756,38   -11,60   -1.51%
  • EMAS1.009.000 -1,46%
  • RD.SAHAM -0.64%
  • RD.CAMPURAN -0.30%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Istana: Indonesia belum masuk resesi meski pertumbuhan ekonomi kuartal II -5,32%


Senin, 10 Agustus 2020 / 10:37 WIB
Istana: Indonesia belum masuk resesi meski pertumbuhan ekonomi kuartal II -5,32%
ILUSTRASI. Direktur Eksekutif Megawati Institute (MI) Arif Budimanta (kanan menghadiri diskusi terkait pemikiran KH Ma'ruf Amin di Jakarta, Rabu (28/11/2018). Diskusi tersebut membahas pemikiran calon wakil presiden nomor urut 01 Maruf Amin tentang kerakyatan, keban

Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi Arif Budimanta menegaskan, saat ini Indonesia belum memasuki resesi meski pertumbuhan ekonomi pada kuartal II tahun 2020 minus 5,32%.

"Itu belum bisa disebut mengalami resesi. Konsensus semua ekonomi di seluruh dunia menyatakan resesi adalah pertumbuhan negatif perekonomian berturut-turut selama 2 kuartal dihitung secara tahunan atau year on year," kata Arif kepada Kompas.com, Senin (10/8/2020).

Arif menyebut, Indonesia masih bisa menghindari resesi jika pertumbuhan ekonomi pada kuartal III secara tahunan dapat mencapai nilai positif.

Ia menambahkan, pertumbuhan negatif pada kuartal II ini juga telah diprediksi sebelumnya sebagai konsekuensi wabah covid-19 yang mengharuskan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Kendati demikian, politisi PDI-P ini optimistis ekonomi di kuartal III nanti bisa kembali tumbuh positif.

Baca Juga: Ekonomi diambang resesi, saatnya masuk ke pasar saham untuk investasi jangka panjang

"Di kuartal III kita punya peluang kembali ke level positif setelah bergeraknya lagi aktivitas perekonomian dengan protokol adaptasi kebiasaan baru," ucap Arif.

Arif melanjutkan, pertumbuhan negatif atau kontraksi ekonomi ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Hampir seluruh negara mengalami hal serupa bahkan dengan kontraksi yang lebih tajam seperti yang terjadi di Uni Eropa (-14,4), Singapura (-12,6), Amerika Serikat (-9,5), dan Malaysia (-8,4).

"Artinya kondisi kita relatif lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara tersebut karena sejak awal Presiden memberikan arahan untuk melakukan program dan fasilitas yang sifatnya counter cyclical untuk mendorong ekonomi domestik, khususnya konsumsi masyarakat sehingga tidak membuat ekonomi kita terkontraksi lebih dalam lagi," kata dia. (Ihsanuddin)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pertumbuhan Ekonomi Minus 5,32 Persen, Istana: Belum Bisa Disebut Resesi",

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×