kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.904.000   -43.000   -1,46%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

Ini Penyebab RI Sulit Naik Kelas ke Negara Berpendapatan Tinggi Menurut Bank Dunia


Rabu, 11 Februari 2026 / 04:34 WIB
Ini Penyebab RI Sulit Naik Kelas ke Negara Berpendapatan Tinggi Menurut Bank Dunia
ILUSTRASI. Bank Dunia beberkan reformasi struktural krusial agar Indonesia naik kelas. Pahami langkah-langkahnya agar ekonomi tak stagnan.(KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Menurut David, tantangan tidak hanya berasal dari hambatan regulasi, tetapi juga dari lemahnya penegakan kesetaraan kesempatan berusaha (level playing field) yang konsisten bagi seluruh pelaku usaha.

Kondisi ini turut berdampak pada berbagai sektor lain, termasuk sektor keuangan, pasar jasa, serta industri pengolahan.

Lingkungan sektor swasta yang kurang kondusif juga dinilai berkontribusi terhadap tingginya tingkat informalitas tenaga kerja di Indonesia.

Mengacu pada definisi Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), sekitar 83 persen tenaga kerja di Indonesia masih berada di sektor informal, menjadikannya salah satu yang tertinggi di antara negara-negara dengan ekonomi besar.

“Tingginya tingkat informalitas berdampak pada rendahnya penerimaan pajak, terbatasnya ruang fiskal pemerintah untuk investasi produktif, serta lambatnya pengembangan sektor keuangan dan sistem inovasi,” jelas David.

Baca Juga: Cegah Sawah Jadi Perumahan,Zulhas Targetkan Verifikasi LSD di 12 Provinsi Kelar Maret

Meski demikian, Bank Dunia menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen pada 2029 tetap realistis dan dapat dicapai.

Namun, pencapaian tersebut sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan reformasi struktural, bukan semata peningkatan investasi.

“Melalui paket reformasi yang kami rekomendasikan dan dinilai dapat dilaksanakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi meningkat sekitar 10 persen,” kata David.

“Jika diterapkan selama lima tahun, hal ini setara dengan tambahan sekitar 2 persen pertumbuhan ekonomi per tahun,” tambahnya.

Baca Juga: Kemenhaj Usulkan Tambahan Anggaran Rp 3,1 Triliun untuk Operasional 2026

11,6 juta orang tergolong setengah pengangguran

Salah satu dampak nyata dari persoalan struktural tersebut tercermin pada kondisi pasar tenaga kerja di Indonesia.

Meski jumlah penduduk yang bekerja terus meningkat, kualitas pekerjaan yang tersedia masih menjadi tantangan besar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa hingga Agustus 2025, jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 154 juta orang.


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×