kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.870   -65,00   -0,36%
  • IDX 5.821   -75,34   -1,28%
  • KOMPAS100 752   -12,33   -1,61%
  • LQ45 573   -10,72   -1,84%
  • ISSI 201   -1,70   -0,84%
  • IDX30 325   -6,09   -1,84%
  • IDXHIDIV20 401   -6,69   -1,64%
  • IDX80 86   -1,38   -1,59%
  • IDXV30 108   -1,25   -1,14%
  • IDXQ30 105   -1,88   -1,76%

Ini alasan tarif listrik nonsubsidi turun tipis


Selasa, 03 Februari 2015 / 21:49 WIB
ILUSTRASI. Tarian pada kirab budaya sebelum Upacara Peringatan HUT ke-78 RI di Istana Merdeka, Jakarta (17/8/2023). Di momen HUT RI ke-78, mari ajarkan anak-anak kita nilai positif selama mengikuti Upacara Kemerdekaan Indonesia.


Reporter: Asep Munazat Zatnika | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Pemerintah kembali menurunkan tarif listrik non subsidi untuk golongan di atas 3.500 Mega Watt (MW). Namun penurunnya sangat tipis, yaitu dari Rp 1.496 per KWh menjadi Rp 1.468 per KWh.

Padahal harga minyak dunia sedang dalam trend pelemahan, ditambah saat ini tengah mengalami deflasi.

Direktur Jenderal (Dirjen) Listrik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jarman mengatakan, masih ada komponen lain yang juga turut jadi penentu tarif listrik. Yakni nilai tukar rupiah yang saat ini masih melemah.

Pelemahan kurs inilah yang menurutnya memiliki andil besar dalam keputusan penurunan tarif listrik. "Sekarang inflasinya deflasi, tapi kursnya naik banyak, inilah yang mengkonversi," ujar Jarman, Selasa (3/2) di kantor wakil Presiden.

Menurutnya, kebijakan tarif listrik non subsidi memang ditentukan berdasarkan harga keekonomian. Dengan konsep ini, jika komponen pasar mengalami penurunan maka tarif listrik juga akan diturunkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×