kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.863.000   45.000   1,60%
  • USD/IDR 17.144   14,00   0,08%
  • IDX 7.676   175,76   2,34%
  • KOMPAS100 1.063   25,24   2,43%
  • LQ45 764   17,96   2,41%
  • ISSI 277   5,37   1,98%
  • IDX30 406   7,07   1,77%
  • IDXHIDIV20 492   5,61   1,15%
  • IDX80 119   2,81   2,42%
  • IDXV30 137   1,27   0,94%
  • IDXQ30 130   1,67   1,30%

Inflasi Pangan Mulai Terkendali, Pemerintah Klaim Intervensi Mulai Berhasil


Selasa, 14 April 2026 / 16:30 WIB
Inflasi Pangan Mulai Terkendali, Pemerintah Klaim Intervensi Mulai Berhasil
ILUSTRASI. Target penyaluran beras SPHP sepanjang 2026 (ANTARA FOTO/Andry Denisah)


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah mengklaim tekanan inflasi pangan mulai mereda seiring masifnya intervensi pasar yang digencarkan sejak awal tahun. 

Namun, ketimpangan pelaksanaan di daerah hingga dinamika harga komoditas strategis masih menjadi pekerjaan rumah.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat realisasi intervensi telah mencapai penyaluran 98 ribu ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), pelaksanaan 3.816 Gerakan Pangan Murah (GPM) di 36 provinsi dan 341 kabupaten/kota, serta distribusi 56,2 juta kilogram beras dan 11,2 juta liter minyak goreng kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

Baca Juga: Pemerintah Kantongi Stok Beras 4,7 Juta Ton, Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah

Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto, menegaskan intensitas intervensi menjadi kunci pengendalian inflasi, terutama melalui GPM.

“GPM menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas harga. Kami dorong peningkatan pelaksanaan di seluruh wilayah, terutama yang masih rendah realisasinya,” ujar Andriko dalam keterangannya, Selasa (14/4/2026). 

Ia mengakui, daerah dengan pelaksanaan GPM terbatas cenderung mengalami fluktuasi harga lebih tinggi, khususnya pada komoditas bergejolak seperti cabai, bawang merah, telur, dan daging ayam.

Di sisi pasokan, pemerintah memastikan kondisi pangan dalam negeri relatif aman, bahkan tanpa ketergantungan impor untuk sejumlah komoditas utama.

“Pangan kami sangat baik. Kami tidak impor beras, jagung, bawang merah, cabai, daging ayam, telur, hingga gula konsumsi,” sebut Andriko.

Penguatan juga dilakukan lewat pengawasan distribusi. Hingga minggu pertama April, Satuan Tugas Sapu Bersih (Saber) Pelanggaran Pangan telah mengawasi 77.629 titik di seluruh Indonesia.

Kendati demikian, data Indeks Perkembangan Harga (IPH) menunjukkan tekanan belum sepenuhnya merata. Sebanyak 22 provinsi masih mengalami kenaikan IPH, sementara 16 provinsi lainnya mencatat penurunan. 

Baca Juga: Situasi Global Penuh Ketidakpastian, Tax Ratio 13% Dinilai Sulit Tercapai

Di level kabupaten/kota, wilayah yang mengalami kenaikan IPH mencapai 149, meski turun dari pekan sebelumnya sebanyak 160 wilayah.

Untuk komoditas utama, harga cabai merah dinilai relatif stabil. Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, menyebut harga masih berada dalam rentang acuan pemerintah.

“Harga cabai merah berada di kisaran Rp 37.000 hingga Rp 55.000, dengan posisi saat ini sekitar Rp 44.000,” jelasnya.

Secara umum, tekanan harga mulai mereda. Rata-rata harga pangan tercatat turun 3,65% dibandingkan Maret 2026. Data BPS juga menunjukkan inflasi Maret sebesar 0,41% (month-to-month), turun dari 0,68% pada Februari, sementara inflasi tahunan terjaga di level 3,48% (year-on-year).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×