kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.004.000   -55.000   -1,80%
  • USD/IDR 16.985   10,00   0,06%
  • IDX 7.337   -248,32   -3,27%
  • KOMPAS100 1.020   -39,17   -3,70%
  • LQ45 751   -25,47   -3,28%
  • ISSI 257   -9,75   -3,65%
  • IDX30 397   -12,77   -3,11%
  • IDXHIDIV20 493   -13,82   -2,73%
  • IDX80 115   -4,19   -3,52%
  • IDXV30 133   -4,17   -3,04%
  • IDXQ30 129   -4,15   -3,13%

INDEF: THR Lebaran 2026 Belum Tentu Dongkrak Daya Beli Masyarakat


Senin, 09 Maret 2026 / 14:22 WIB
INDEF: THR Lebaran 2026 Belum Tentu Dongkrak Daya Beli Masyarakat
ILUSTRASI. Ilustrasi Tunjangan Hari Raya (THR) (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai bahwa pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) kepada masyarakat yang bekerja belum tentu mampu meningkatkan daya beli secara signifikan.

THR dinilai lebih berfungsi sebagai penopang agar daya beli masyarakat tidak turun lebih dalam di tengah berbagai tantangan ekonomi global dan domestik, terutama inflasi.

Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF Abdul Manap Pulungan menjelaskan bahwa momentum Ramadan biasanya mendorong peningkatan konsumsi masyarakat. Hal tersebut dipicu oleh tambahan pendapatan dari THR serta meningkatnya aktivitas mudik menjelang Hari Raya Idulfitri.

Menurutnya, peningkatan konsumsi tersebut diharapkan dapat menggerakkan sektor usaha, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa pada periode ini berpotensi meningkatkan kapasitas produksi pelaku usaha sekaligus memperbesar peredaran uang di masyarakat.

Baca Juga: Lippo Hibahkan 30 Hektare Lahan di Meikarta, Bisa Bangun 140.000 Unit Rusun

Namun demikian, Abdul menilai momentum Ramadan dan Idulfitri tahun ini berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, kondisi ekonomi global saat ini dibayangi ketidakpastian yang cukup tinggi, seperti kebijakan tarif resiprokal dari Amerika Serikat (AS) hingga ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Selain itu, momentum Ramadan dan Idulfitri hampir selalu diiringi dengan kenaikan inflasi, khususnya pada kelompok bahan pangan. Kondisi ini terjadi karena permintaan meningkat sementara pasokan relatif terbatas. Persoalan tersebut dinilai belum terselesaikan secara fundamental.

“Tantangan ketika terjadinya Ramadan dan Idulfitri, terjadi peningkatan inflasi terutama bahan pangan karena stoknya yang terbatas. Tapi ini belum terselesaikan fundamental ini. Lalu dampak perang dagang dan geopolitik kita menghitung melalui bagaimana akan mempengaruhi harga energi,” tutur Abdul dalam agenda Diskusi Publik “Ekonomi Lebaran di Tengah Gejolak Perang,” Senin (9/3/2026).

Abdul mencatat, pada Februari inflasi komponen administered prices atau harga yang diatur pemerintah telah mencapai 12,66% secara tahunan atau year on year (yoy). Sementara itu, kelompok volatile food juga mengalami peningkatan inflasi menjadi 4,64% yoy.

Menurutnya, kenaikan kedua komponen inflasi tersebut menunjukkan adanya persoalan fundamental yang dihadapi masyarakat setiap tahun, yakni melemahnya daya beli.

Di sisi lain, masyarakat yang melakukan perjalanan mudik juga menghadapi berbagai tantangan tambahan. Kemacetan serta keterbatasan infrastruktur dinilai dapat meningkatkan biaya perjalanan. Akibatnya, sebagian dana THR berpotensi digunakan untuk menutup pengeluaran tak terduga, seperti biaya transportasi tambahan.

Selain itu, dampak banjir yang terjadi di beberapa titik di Jakarta juga membuat sebagian masyarakat harus mengeluarkan biaya tambahan yang tidak direncanakan.

Baca Juga: Survei BI: Keyakinan Konsumen Turun Pada Februari 2026

Abdul menambahkan, kondisi Ramadan tahun ini juga berbeda dibandingkan periode sebelumnya karena dibayangi ketidakpastian global yang dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah serta tekanan inflasi domestik.

Ia menilai kombinasi inflasi pangan, potensi kenaikan harga energi, serta pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya impor dapat mendorong inflasi secara keseluruhan.

Dengan berbagai tekanan tersebut, Abdul menilai THR kemungkinan besar hanya berfungsi sebagai penyangga agar daya beli masyarakat tidak mengalami penurunan yang lebih dalam.

“Apakah THR ini berkontribusi terhadap peningkatan daya beli ditengah inflasi yang meningkat? saya rasa tidak, karena THR ini bisa jadi hanya berguna agar daya beli tidak signifikan turun dikala inflasi cukup besar,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Financial Statement in Action AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×