kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.837   -39,00   -0,22%
  • IDX 6.380   102,62   1,63%
  • KOMPAS100 834   12,68   1,54%
  • LQ45 634   8,82   1,41%
  • ISSI 221   4,32   1,99%
  • IDX30 351   4,40   1,27%
  • IDXHIDIV20 435   2,63   0,61%
  • IDX80 95   1,42   1,52%
  • IDXV30 119   0,50   0,42%
  • IDXQ30 113   0,77   0,69%

Perekonomian Global Belum Kuat, BI: Perlu Penguatan Kebijakan Moneter dan Fiskal


Rabu, 23 September 2026 / 14:23 WIB
Perekonomian Global Belum Kuat, BI: Perlu Penguatan Kebijakan Moneter dan Fiskal
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti. (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indoensia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global belum kuat, disertai dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi. Tensi perang di Timur Tengah yang kembali meningkat.

Gubernur BI Destry Damayanti membeberkan, tensi perang di Timur Tengah tersebut, semakin mendorong tingginya harga minyak yang sempat menyentuh US$ 132 per barel, sebelum kemudian kembali turun ke level di bawah US$ 100 per barel pada 22 September 2026.

Selain itu, konflik tersebut juga menyebabkan, harga berbagai komoditas dunia turut mengalami kenaikan.

Baca Juga: Utang Rp 640 Triliun ke BI Lunas, Kemenkeu Bakal Tetap Kejar Tagihan ke Obligor BLBI

Dengan kondisi global tersebut, ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global 2026 masih lemah, sekitar 3%, dan diikuti tekanan inflasi yang meningkat menjadi 4%.

“Kebijakan moneter global menjadi lebih ketat, termasuk kenaikan suku bunga kebijakan moneter Amerika Serikat, atau Federal Funds Rate (FFR), menjadi 3,75% hingga 4% pada September 2026,” tutur Destry dalam konferensi pers, Rabu (23/9/2026).

Disisi lain, ia juga menyoroti dengan kemungkinan peningkatan kembali yang masih tinggi, imbal hasil atau yield US Treasury meningkat seiring ekspektasi kenaikan FFR dan defisit anggaran pemerintah Amerika Serikat yang besar.

Preferensi investor global terhadap investasi portofolio ke negara emerging market (pasar berkembang) tertahan dan berdampak pada tetap kuatnya indeks mata uang dolar AS terhadap negara maju dan negara berkembang.

Baca Juga: BI Prediksi Ekonomi Tumbuh 5,2%-6% di 2026, Rupiah Rp 17.300- Rp 17.800 per Dolar AS

“Kondisi ini mengharuskan penguatan respons kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” ungkapnya.

Meski demikian, ia menilai perekonomian Indonesia tetap terjaga baik, namun perlu terus didorong dengan mengoptimalkan berbagai sumber pertumbuhan ekonomi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×