kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45952,80   9,76   1.04%
  • EMAS1.014.000 -1,46%
  • RD.SAHAM -0.04%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Greenomics: Pidato presiden di KTT perubahan iklim sesuai dengan data satelit


Rabu, 03 November 2021 / 15:19 WIB
Greenomics: Pidato presiden di KTT perubahan iklim sesuai dengan data satelit
ILUSTRASI. Presiden Joko Widodo berjalan menuju podium pembicara pada sesi World Leaders Summit on Forest and Land Use di Scotish Event Campus di KTT Perubahan Iklim PBB (COP26) di Glasgow, Skotlandia, Britania Raya, Selasa (2/11/2021).


Reporter: Achmad Jatnika | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pidato Presiden Joko Widodo pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim COP26 di Glasgow (1/11) mengenai mengenai laju deforestasi terendah dalam 20 tahun terakhir dinilai sesuai dengan data satelit. 

Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia, Vanda Mutia Dewi, mengungkapkan bahwa data satelit tidak bisa berbohong, karena dapat diakses oleh siapapun, dan data yang diungkapkan oleh Presiden Joko Widodo tak terbantahkan. 

Dalam keterangan resmi yang diterima Kontan, Rabu (3/11), Greenomics Indonesia mengungkapkan laju penurunan deforestasi selama 2014-2016 dalam skema Green Climate Fund (GCF), tim verifikator internasional menyimpulkan telah terjadi penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi lahan selama periode tersebut. “Data satelit juga membuktikan itu,” jelas Vanda. 

Contoh selanjutnya, Vanda mengatakan, bahwa penurunan deforestasi dalam periode 2016-2017, yang juga telah diverifikasi oleh tim verifikator internasional, menyimpulkan bahwa telah terjadi laju penurunan deforestasi Indonesia selama periode tersebut. 

Baca Juga: Begini langkah Kementerian PUPR dorong pengurangan emisi gas rumah kaca

“Perlu kita akui bahwa laju penurunan deforestasi yang terjadi dalam periode Presiden Jokowi terbukti belum pernah terjadi di era presiden-presiden sebelumnya. Kesimpulan ini berdasarkan data satelit dan hasil verifikator internasional, bukan opini. Data satelit tidak bisa diajak berbohong,” tegasnya. 

Greenomics juga menjelaskan bahwa data satelit yang diterbitkan oleh Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) Uni Eropa dapat digunakan sebagai salah satu acuan untuk melihat penurunan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, yang menjadi bagian dari pidato Presiden Joko Widodo di COP26. 

Tahun 2020 lalu, dengan menggunakan data satelit CAMS, Vanda mengemukakan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Australia merupakan bagian dari negara-negara dengan luas karhutla terbesar di dunia, dan mereka berada dalam daftar negara-negara dengan emisi terbesar dari karhutla.

“Indonesia tidak termasuk dalam daftar tersebut,” jelas Vanda. 

Sedangkan pada tahun 2021 ini, Vanda menilai, data CAMS menyebutkan AS, Kanada, sebagian negara-negara Eropa dan Rusia adalah negara-negara penyumbang emisi global karhutla terbesar karena mereka merupakan negara-negara-negara terluas karhutla di dunia.

Selanjutnya: Indonesia terlibat aktif di KTT G20 dan COP26, pengusaha optimistis pada ekonomi

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung Complete Three Statement Modeling

[X]
×