kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   25.000   0,97%
  • USD/IDR 16.846   28,00   0,17%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

Gejala Flu vs Superflu: Jangan Panik, Kenali 4 Perbedaan Utama Ini


Minggu, 11 Januari 2026 / 04:37 WIB
Gejala Flu vs Superflu: Jangan Panik, Kenali 4 Perbedaan Utama Ini
ILUSTRASI. Masyarakat panik menyebut 'superflu', padahal dokter menegaskan itu adalah Influenza A H3N2. Ketahui cara membedakannya. (dok./Freepik)


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Istilah “superflu” belakangan ramai diperbincangkan di media sosial dan ruang publik. Banyak masyarakat mengira superflu merupakan penyakit baru yang lebih berbahaya dibanding flu biasa. Namun secara medis, superflu bukanlah istilah kedokteran, melainkan sebutan populer untuk influenza A subtipe H3N2 yang saat ini mengalami peningkatan kasus secara global.

Mengutip Infopublik.id, Dokter Spesialis Paru RSUD Pasar Rebo, dr. Agung Prasetyo, Sp.P., menegaskan bahwa dunia medis tidak mengenal istilah superflu. Menurutnya, virus yang dimaksud tetap merupakan virus influenza yang sudah lama dikenal, khususnya influenza tipe A yang memang memiliki kemampuan bermutasi dan kerap menyebabkan lonjakan kasus musiman.

“Virusnya tetap influenza, bukan penyakit baru. Influenza tipe A memang paling mudah bermutasi dan sering memicu peningkatan kasus, termasuk subtipe H3N2,” jelas dr. Agung dalam webinar edukasi kesehatan yang digelar Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Jumat (9/1/2026).

Dalam kesempatan tersebut, dr. Agung mengajak masyarakat untuk memahami jenis-jenis influenza agar tidak mudah panik. Ia menjelaskan bahwa influenza merupakan infeksi saluran pernapasan akibat virus yang terbagi menjadi tiga tipe utama.

Baca Juga: Kemkomdigi Blokir Grok AI, Kenapa Platform X Harus Bertanggung Jawab?

Influenza tipe A merupakan jenis yang paling mudah bermutasi dan kerap memicu lonjakan kasus, termasuk subtipe H3N2. Sementara itu, influenza tipe B umumnya menimbulkan gejala lebih ringan dan sering ditemukan di lingkungan sekolah atau perkantoran. Adapun influenza tipe C tergolong jarang dan tidak menyebabkan wabah.

Ia juga menjelaskan bahwa influenza memiliki pola musiman. Di belahan bumi utara, kasus biasanya meningkat pada akhir hingga awal tahun, sedangkan di belahan bumi selatan terjadi pada pertengahan tahun. “Saat ini peningkatan kasus influenza A(H3N2) dilaporkan di puluhan negara, termasuk kawasan Asia Tenggara. Kondisi ini perlu diwaspadai, namun tidak perlu disikapi dengan kepanikan berlebihan,” tambahnya.

Bedakan Influenza dengan Gangguan Pernapasan Lain

Dokter Agung menekankan pentingnya membedakan influenza dengan gangguan pernapasan lain yang kerap disalahartikan. Influenza umumnya disertai demam tinggi di atas 38 derajat Celsius, nyeri otot dan sendi, sakit kepala, serta rasa lemas berat.

Sementara selesma (common cold) biasanya hanya ditandai hidung meler dan rasa tidak enak badan tanpa demam tinggi. Rinitis alergi ditandai bersin-bersin dan hidung berair, yang sering muncul pada pagi hari atau saat cuaca dingin. Adapun batuk kronis tidak selalu berkaitan dengan gangguan paru, karena bisa dipicu oleh asam lambung atau penyakit refluks gastroesofageal (GERD).

“Pemahaman ini penting agar masyarakat dapat menentukan langkah penanganan yang tepat,” jelasnya.

Baca Juga: Jadwal Libur Panjang: 16 Januari 2026 Buka Kesempatan Long Weekend Baru

Selain itu, beberapa kelompok diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi akibat influenza. Kelompok tersebut meliputi lansia, ibu hamil, perokok aktif maupun pasif, serta penderita penyakit penyerta seperti asma, penyakit jantung, diabetes, obesitas, dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengimbau kelompok rentan untuk lebih waspada terhadap gejala influenza dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila kondisi tidak kunjung membaik. Penanganan influenza pada umumnya bersifat suportif, meliputi istirahat cukup, konsumsi cairan, pemenuhan nutrisi seimbang, serta penggunaan obat pereda gejala. Antibiotik tidak dianjurkan kecuali terdapat infeksi bakteri sekunder, sedangkan antivirus diberikan berdasarkan indikasi medis tertentu.

“Masyarakat disarankan segera ke fasilitas kesehatan apabila gejala tidak membaik setelah tiga hari, muncul sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, atau kondisi justru memburuk setelah sempat membaik,” pesannya.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga menegaskan bahwa langkah pencegahan sederhana tetap menjadi kunci pengendalian influenza. Upaya tersebut antara lain dengan rajin mencuci tangan, menggunakan masker saat sakit, menerapkan etika batuk dan bersin, menjaga kebersihan lingkungan, serta menghindari rokok.

Tonton: BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem 10–11 Januari 2026! Hujan Lebat & Angin Kencang Mengancam

Sebagai bagian dari kewaspadaan dini, layanan pemeriksaan Influenza Like Illness (ILI) tersedia di sejumlah puskesmas di Jakarta, antara lain Puskesmas Tanah Abang, Pademangan, Cengkareng, Kebayoran Lama, dan Duren Sawit.

Selanjutnya: Kemkomdigi Blokir Grok AI, Kenapa Platform X Harus Bertanggung Jawab?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×