Reporter: Siti Masitoh | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dampak positif momentum Ramadan dan Lebaran di 2025 lebih terbatas dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan konsumsi masyarakat yang justru melambat di momentum tersebut.
Padahal, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menuebut, biasanyya momentum Ramadan dan Idul fitri biasanya memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia, terutama melalui peningkatan konsumsi rumah tangga yang mencakup lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB).
Josua menilai, konsumsi masyarakat menjelang Lebaran mengalami perlambatan signifikan yang tercermin dari penurunan Indeks Penjualan Riil (IPR) sebesar -0,5% secara tahunan pada Februari 2025, yang mana terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatatkan penurunan sebesar 1,7%.
Baca Juga: Ketum PHR Sebut Okupansi Hotel Di Libur Lebaran 2025 Turun 20% Imbas Daya Beli Lemah
“Padahal, kelompok ini biasanya mengalami kenaikan inflasi menjelang Ramadan. Fakta ini menunjukkan adanya anomali konsumsi yang cukup serius dibandingkan pola tahun sebelumnya,” tutur Josua kepada Kontan, Jumat (4/4).
Adapun, survei konsumen oleh Bank Indonesia menunjukkan bahwa keyakinan konsumen masih berada pada level optimis dengan indeks 126,4 pada Februari 2025, namun indeks ini mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 127,2.
Penurunan keyakinan ini terutama terjadi pada ekspektasi penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja enam bulan ke depan, yang masing-masing turun sebesar 1,1% dan 2,1% secara bulanan.
“Hal ini mencerminkan bahwa meskipun secara umum konsumen masih optimis, namun kekhawatiran tentang pendapatan dan lapangan kerja mengindikasikan tekanan yang signifikan terhadap daya beli masyarakat,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Josua mencatat, terdapat beberapa penyebab mengapa daya beli selama Ramadan tahun ini tidak sebesar tahun lalu.
Pertama, fenomena deflasi yang dialami Indonesia pada Februari 2025 sebesar -0,09% (yoy), yang merupakan deflasi tahunan pertama sejak tahun 2000, sangat dipengaruhi oleh diskon tarif listrik yang signifikan sebesar 50%.
Menurutnya, diskon ini memang memberikan keringanan beban rumah tangga, tetapi secara bersamaan, menunjukkan bahwa rumah tangga menghadapi tekanan ekonomi yang memaksa pemerintah melakukan intervensi kebijakan yang bersifat sementara.
Selain itu, tekanan daya beli juga terlihat dari menurunnya nilai transaksi melalui ATM dan kartu debit yang mengalami kontraksi sebesar 4% pada tahun 2024 dibandingkan pertumbuhan 8% pada tahun sebelumnya.
Baca Juga: Daya Beli Lesu, Konsumsi Ramadan dan Lebaran Tidak Membantu Dongkrak Ekonomi
Kedua, konsumsi menjelang Lebaran tahun ini terhambat oleh kondisi fundamental ekonomi domestik yang sedang tidak sehat. Terjadi berbagai tekanan struktural, termasuk PHK massal di sektor industri manufaktur, lambatnya penciptaan lapangan kerja formal, serta stagnasi pertumbuhan upah riil yang menekan pendapatan riil masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah.
“Respons pemerintah yang lebih bersifat jangka pendek belum mampu menyelesaikan akar masalah penurunan daya beli yang telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir,” katanya.
Melihat ke depan, Josua menilai perbaikan daya beli membutuhkan intervensi kebijakan struktural jangka menengah hingga panjang yang lebih kuat, di antaranya dengan memperkuat basis produksi domestik melalui industrialisasi, menciptakan lapangan kerja formal, dan memastikan kenaikan pendapatan riil secara berkelanjutan.
“Kebijakan fiskal berupa stimulus sesaat perlu dikombinasikan dengan reformasi struktural agar daya beli masyarakat dapat pulih secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi domestik di periode berikutnya,” tandasnya.
Baca Juga: Ketum Apindo Akui Daya Beli Masyarakat Melemah di Momentum Lebaran 2025
Selanjutnya: Penjualan Paperocks Indonesia (PPRI) pada Momen Ramadan dan Lebaran 2025 Naik 20%
Menarik Dibaca: 10 Jenis Sayuran yang Tidak Boleh Dimakan Penderita Diabetes, Cek di Sini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News