Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Center of Economic and Law Studies (Celios) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,05% secara tahunan (year on year/yoy), didorong faktor musiman Ramadan dan Lebaran.
Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira menyebutkan, momentum konsumsi selama periode hari raya masih menjadi penopang utama pertumbuhan pada awal tahun ini. Namun, pertumbuhan ekonomi sebenarnya berpotensi lebih tinggi.
“Idealnya bisa di atas 5,5% yoy. Tapi ada beberapa tantangan yang menghambat konsumsi rumah tangga,” ujarnya kepada Kontan, Senin (30/3/2026).
Baca Juga: Konsumsi Lebaran Dorong Ekonomi Kuartal I-2026, Indef Ingatkan Itu Sementara
Bhima bilang, salah satu faktor penahan konsumsi adalah kecenderungan masyarakat untuk menyimpan tunjangan hari raya (THR) dibandingkan membelanjakannya. Hal ini dipicu kekhawatiran terhadap potensi kenaikan harga energi dan pangan setelah Lebaran.
Dari sisi sektoral, Bhima mengakui, tradisi mudik tetap memberikan dorongan terhadap sektor pariwisata. Meski begitu, perlu ada upaya lebih untuk meningkatkan dampak ekonominya.
“Ke depan perlu promosi lebih gencar ke destinasi wisata baru agar durasi tinggal wisatawan bisa lebih lama,” jelasnya.
Bhima juga menekankan pentingnya pengendalian inflasi, baik sebelum maupun setelah periode mudik, agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan THR dapat dibelanjakan secara optimal.
Selain itu, penciptaan lapangan kerja dinilai menjadi faktor krusial untuk meningkatkan kualitas dan jumlah pemudik, yang pada akhirnya dapat memperkuat konsumsi domestik.
Sementara itu, untuk kuartal II-2026, Celios memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat ke kisaran 4,7%–4,9% yoy.
Perlambatan ini dipengaruhi oleh tekanan eksternal dan domestik, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah serta kenaikan harga energi dan pangan.
Baca Juga: Surplus Dagang Diprediksi Menyempit per Februari 2026 Karena Impor Melonjak
Bhima juga mengingatkan adanya potensi risiko dari fenomena super El Nino yang terjadi bersamaan dengan krisis bahan baku pupuk, yang dapat mengganggu produksi pangan nasional.
“Kita akan menghadapi cost of living crisis, khususnya bagi kelas menengah. Akibatnya, banyak masyarakat yang menahan belanja dan lebih fokus menabung,” imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













