kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.120.000   -48.000   -1,52%
  • USD/IDR 16.805   19,00   0,11%
  • IDX 8.330   97,40   1,18%
  • KOMPAS100 1.165   25,83   2,27%
  • LQ45 834   20,52   2,52%
  • ISSI 298   2,18   0,74%
  • IDX30 430   8,24   1,96%
  • IDXHIDIV20 510   9,16   1,83%
  • IDX80 129   2,93   2,32%
  • IDXV30 139   2,61   1,92%
  • IDXQ30 139   3,06   2,26%

Diskon Tiket Pesawat Lebaran 2026 Bakal Lebih Besar, Ekonomi Kuartal I Mampu Melejit?


Jumat, 30 Januari 2026 / 18:36 WIB
Diskon Tiket Pesawat Lebaran 2026 Bakal Lebih Besar, Ekonomi Kuartal I Mampu Melejit?
ILUSTRASI. Nindya Karya (Dok/NULL) Pemerintah tengah menyiapkan skema insentif angkutan Lebaran 2026 dengan target lebih agresif yakni diskon tiket pesawat yang lebih besar .


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah tengah menyiapkan skema insentif angkutan Lebaran 2026 dengan target lebih agresif, termasuk usulan diskon tiket pesawat yang lebih besar dibanding periode sebelumnya.

Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, usulan ini merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan besarnya kontribusi mobilitas masyarakat terhadap pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, lonjakan pergerakan saat libur panjang berdampak signifikan pada konsumsi rumah tangga, transportasi, pariwisata, hingga perdagangan. Karena itu, pemerintah mengusulkan diskon tiket pesawat lebih tinggi dari periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) tahun lalu berada di kisaran 13%–16%.

Susiwijono menambahkan, kebijakan ini ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026, mengingat Ramadan dan Idul Fitri seluruhnya jatuh pada periode Januari–Maret. Penetapan insentif juga perlu dilakukan lebih awal karena reservasi tiket sudah dibuka sejak H-45, sehingga masyarakat bisa merencanakan perjalanan mudik dengan lebih baik dan dampak stimulus terasa sejak awal tahun.

Baca Juga: Kejagung Geledah Rumah Mantan Menteri KLHK Siti Nurbaya Terkait Kasus Sawit

Menanggapi hal tersebut, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman menilai,  stimulus diskon tiket pesawat yang lebih besar pada Kuartal I 2026, ditambah adanya momentum Ramadan dan Lebaran, memang akan memberi dorongan positif pada konsumsi rumah tangga, khususnya di sektor transportasi, pariwisata, perdagangan, dan jasa.

“Diskon tiket menurunkan biaya perjalanan, meningkatkan mobilitas mudik dan wisata domestik, serta memicu belanja turunan seperti makanan, akomodasi, UMKM daerah. Dari sisi teori ekonomi, ini bekerja lewat kanal peningkatan permintaan agregat jangka pendek, terutama konsumsi,” tutur Rizal kepada Kontan, Jumat (30/1/2026).

Meski demikian, ia melihat, secara makro, stimulus berbasis diskon bersifat sementara dan sektoral, sehingga efek penggandanya relatif terbatas. Ia menyebut konsumsi memang meningkat saat Ramadan dan Lebaran, tetapi sebagian besar bersifat front-loading alias belanja dipercepat, bukan tambahan permanen.

Selain itu, menurutnya, daya beli masyarakat masih menghadapi tekanan dari harga pangan, cicilan, serta kecenderungan menahan belanja non-esensial di awal tahun.

Dengan mempertimbangkan pola historis dan kondisi fundamental saat ini, Rizal memperkriakan, pertumbuhan ekonomi Kuartal I 2026 berpeluang berada di kisaran 4,9–5,2% year on year (yoy).

“Angka di atas 5% masih mungkin, terutama jika realisasi stimulus efektif, inflasi terkendali, dan mobilitas Lebaran sangat kuat,” ungkapnya.

Akan tetapi, menurutnya, untuk tumbuh jauh di atas 5%, dibutuhkan penopang tambahan dari investasi, belanja pemerintah yang cepat terserap, dan ekspor yang biasanya tidak terlalu kuat di kuartal awal.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada Kuartal I-2026 akan berada di kisaran 4,9% hingga 5,7%.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Aisa S. Budiman mengatakan, pertumbuhan ekonomi Kuartal I-2026 akan dipengaruhi berbagai indikator ekonomi yang dinilai akan melanjutkan kinerja yang cukup baik, khususnya dari sisi permintaan domestik.

Aisa menjelaskan, pada Kuartal I-2026 faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi berasal dari domestik demand.

Hal ini ditopang oleh efek berbagai stimulus yang telah dilakukan Bank Indonesia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

“Dengan adanya stimulus yang sudah dilakukan oleh Bank Indonesia, baik dari sisi moneter, makroprudensial, maupun sistem pembayaran, yang bersinergi dengan stimulus pemerintah, maka ini akan meningkatkan konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan juga investasi,” ujar Aisa.

Ia menambahkan, khususnya sejumlah program pemerintah juga turut memberikan kontribusi terhadap penguatan aktivitas ekonomi pada awal 2026.

Baca Juga: Usai Diperiksa KPK 5 Jam Soal Korupsi Kuota Haji 2024, Ini Kata Gus Yaqut

Selanjutnya: Mahendra Siregar dan Inarno Djajadi Mundur dari OJK

Menarik Dibaca: Bitcoin Ambles Hampir 6%, Sinyal Bearish atau Volatilitas Jangka Pendek?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×