Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ekonom Bank Danamon Indonesia, Hosianna Evalita Situmorang, memproyeksikan inflasi domestik ke depan akan cenderung melandai, seiring melemahnya aktivitas manufaktur dan moderasi permintaan domestik.
Badan Pusat Statitik (BPS) mencatat inflasi Juni meningkat secara tahunan tercatat sebesar 3,34% (yoy) dan 0,44% secara bulanan (mtm), namun masih berada di batas atas target Bank Indonesia (BI). Tekanan inflasi terutama berasal dari kenaikan harga BBM nonsubsidi, tarif transportasi udara, serta komoditas pangan seperti bawang merah, bawang putih, dan beras.
Inflasi inti tercatat naik menjadi 2,76% yoy, ditopang harga emas perhiasan, smartphone, minyak goreng, dan biaya pendidikan. Sementara itu, inflasi volatile food melambat menjadi 5,58% yoy, sedangkan inflasi administered prices naik menjadi 3,42% yoy akibat kenaikan harga BBM rumah tangga.
Baca Juga: Ekonom Prediksi Tekanan Inflasi Lebih Tinggi pada Semester II 2026, Ini Pemicunya
Ia mengatakan, meski inflasi pada Juni 2026 masih berada dalam tren meningkat, tekanan harga diperkirakan mulai berkurang pada periode berikutnya sejalan dengan pelemahan indikator aktivitas ekonomi.
“Ke depan, inflasi diperkirakan akan melandai seiring melemahnya PMI manufaktur (Juni 2026: 46,9), yang berpotensi menekan daya beli dalam jangka pendek,” ujar Hosianna.
Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Juni 2026 turun ke level 46,9, dari sebelumnya di level.50,0 pada Mei 2026, yang menandakan kembali masuknya sektor manufaktur ke zona kontraksi.
Penurunan ini menunjukkan pelemahan aktivitas industri, termasuk turunnya pesanan baru dan tekanan pada daya beli masyarakat, yang pada gilirannya dapat membatasi tekanan inflasi dari sisi permintaan.
Menurutnya, kondisi PMI manufaktur yang berada di area kontraksi menunjukkan penurunan aktivitas industri yang pada gilirannya dapat menahan permintaan agregat. Hal ini berpotensi menjadi faktor penyeimbang dari tekanan inflasi sisi penawaran yang masih cukup dominan sepanjang semester I 2026.
Ia menambahkan, perlambatan inflasi juga dipengaruhi oleh moderasi konsumsi masyarakat yang mulai merespons kenaikan harga pada sejumlah komoditas, termasuk energi dan pangan.
Dengan kombinasi faktor tersebut, Hosianna menilai arah inflasi pada semester II 2026 masih akan dipengaruhi oleh keseimbangan antara tekanan biaya dari sisi penawaran dan pelemahan permintaan domestik.
Baca Juga: Pengusaha Buka-bukaan, Kebijakan Pemerintah Belum Mampu Selamatkan Manufaktur
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














