Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menjelang rilis data inflasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang dijadwalkan Senin (4/5/2026), Office of Chief Economist (OCE) Bank Mandiri memproyeksikan inflasi Indonesia pada April 2026 akan melandai baik secara bulanan maupun tahunan, meski masih diwarnai tekanan dari sisi biaya (cost-push).
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, inflasi April diperkirakan mencapai 0,2% secara bulanan, lebih rendah dari realisasi Maret yang sebesar 0,4% secara month on month (MoM).
“Perlambatan ini didorong oleh normalisasi harga pangan bergejolak (volatile food) pasca Ramadan, sementara inflasi inti dan komponen administered prices diperkirakan meningkat seiring penyesuaian harga BBM non subsidi di tengah kenaikan harga minyak global,” ujarnya.
Baca Juga: Ekonom Danamon Perkirakan Surplus Neraca Dagang RI US$ 2,48 Miliar Pada Maret 2026
Secara tahunan, inflasi umum juga diproyeksikan turun menjadi 2,5% (year on year/YoY), dari 3,5% YoY pada Maret 2026. Penurunan ini turut dipengaruhi oleh normalisasi dampak diskon tarif listrik sebesar 50% yang diberlakukan pada tahun sebelumnya.
Dari sisi komponen, harga pangan bergejolak atau volatile food diperkirakan mencatat deflasi ringan sebesar 0,2% secara bulanan, berbalik dari inflasi 1,6% MoM pada Maret seiring normalisasi pasca Ramadan. Penurunan harga terutama terjadi pada cabai rawit (-14,2%), cabai merah (-9,5%), daging ayam ras (-5,6%), dan telur ayam ras (-3,7%), sementara harga minyak goreng (3,7%) dan bawang merah (1,6%) masih mengalami kenaikan.
Sementara itu, inflasi inti diperkirakan naik tipis menjadi 0,2% MoM (dari 0,1% MoM pada Maret). Meski harga emas yang melemah (-1,51% MoM) membantu menahan kenaikan pada subkomponen emas, depresiasi rupiah masih memberikan tekanan rambatan (pass-through) pada harga barang impor. Risiko kenaikan tambahan juga berasal dari meningkatnya biaya input.
Adapun komponen administered prices diproyeksikan mencatat inflasi lebih tinggi sebesar 0,8% MoM (dari 0,3% MoM pada Maret), didorong oleh penyesuaian harga energi dan BBM non-subsidi (rata-rata naik 60% MoM), dengan estimasi dampak sekitar 0,04 poin persentase terhadap inflasi bulanan.
Baca Juga: Bank Mandiri Proyeksi Surplus Neraca Dagang Meningkat Jadi US$ 2,5 Miliar Maret 2026
Sementara harga tiket pesawat naik 3,13% MoM (dari 5,24% pada Maret), berlawanan dengan pola deflasi pasca-Lebaran yang biasanya terjadi, dipicu oleh kenaikan harga avtur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













