Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sinyal pelemahan konsumsi rumah tangga kembali terlihat. Penjualan eceran pada Juli 2026 tercatat turun secara bulanan, seiring berakhirnya momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah.
Berdasarkan Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia (BI), Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli 2026 diperkirakan berada di level 224,4. Angka tersebut turun 0,7% secara bulanan (mom). Sementara secara tahunan, IPR masih tumbuh 0,9%.
Secara bulanan, penurunan IPR terutama dipicu oleh melemahnya penjualan kelompok peralatan informasi dan komunikasi sebesar 1,8%, serta makanan, minuman dan tembakau yang turun 0,9%.
Baca Juga: SPBU Swasta BP dan Shell Turunkan Harga Diesel Mulai Hari Ini 1 Juli 2026
Penurunan lebih dalam tertahan oleh kenaikan penjualan kelompok perlengkapan rumah tangga dan lainnya yang tumbuh 9,5% dibandingkan bulan sebelumnya.
Jika dilihat secara tahunan, pertumbuhan IPR Juli 2026 yang hanya 0,9% terutama tertahan oleh penjualan peralatan informasi dan komunikasi yang merosot 20,8%. Penjualan kelompok rekreasi dan barang budaya juga turun 10,4%.
Sebaliknya, penjualan suku cadang dan aksesori masih mencatat pertumbuhan 10,8% secara tahunan.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, kinerja penjualan eceran pada Juli 2026 masih lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Kinerja penjualan pada Juli 2026 tersebut lebih baik dibandingkan Juli 2025 yang turun 4,1% dibanding bulan sebelumnya," kata Ramdan, Selasa (11/8/2026).
Daya beli mulai tertekan
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M. Rizal Taufikurahman menilai pelemahan penjualan eceran sejalan dengan berakhirnya momentum HBKN dan libur sekolah.
Di saat yang sama, penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menunjukkan rumah tangga mulai lebih berhati-hati dalam membelanjakan pendapatannya.
Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (7/7): Harga Jual & Buyback Kompak Turun Rp 15.000
"Kombinasi ini menunjukkan rumah tangga mulai lebih berhati-hati dalam membelanjakan pendapatannya," kata Rizal.
Menurut dia, konsumsi rumah tangga masih akan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2026. Namun, laju pertumbuhannya berpotensi terbatas apabila daya beli masyarakat tidak segera menguat.
Tekanan terhadap konsumsi juga berpotensi datang dari sisi harga. Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rahman memperkirakan tekanan inflasi dapat meningkat akibat kenaikan harga energi nonsubsidi dan dampak El Nino terhadap harga pangan.
Kenaikan harga tersebut berisiko mengurangi ruang belanja masyarakat karena sebagian pendapatan rumah tangga harus dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pokok dan energi.
"Untuk itu memang dibutuhkan stimulus dari pemerintah untuk tetap menjaga momentum dan daya beli masyarakat tersebut," kata Faisal.
Baca Juga: Ekonom Prediksi Inflasi Juli Turun, Imbas Tekanan pada Harga Telur dan Bawang Merah
Dengan demikian, pelemahan penjualan eceran pada Juli menjadi sinyal yang perlu dicermati. Meski konsumsi masih tumbuh secara tahunan, pertumbuhan yang tipis menunjukkan pemulihan daya beli belum sepenuhnya solid.
Kondisi ini dapat menjadi tantangan bagi pemerintah untuk menjaga konsumsi sebagai motor pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
