kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.892   34,00   0,19%
  • IDX 6.101   -15,36   -0,25%
  • KOMPAS100 796   1,04   0,13%
  • LQ45 598   -0,77   -0,13%
  • ISSI 212   -1,29   -0,61%
  • IDX30 338   -0,72   -0,21%
  • IDXHIDIV20 413   -2,81   -0,68%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 111   -0,72   -0,65%
  • IDXQ30 108   -0,25   -0,23%

Ekonom BCA Proyeksi BI Tahan Suku Bunga Acuan 5,5% di Bulan Ini


Senin, 16 Juni 2025 / 15:16 WIB
Ekonom BCA Proyeksi BI Tahan Suku Bunga Acuan 5,5% di Bulan Ini
ILUSTRASI. Kepala Ekonom BCA David Sumual melihat BI berpeluang mempertahankan suku bunga acuan 5,5% di pertemuan bulan ini


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Peluang Bank Indonesia (BI) untuk kembali memangkas suku bunga acuan (BI Rate) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan 17-18 Juni 2025 dinilai relatif kecil. Hal tersebut terjadi karena tensi geopolitik dan perang Iran-Israel yang saat ini terjadi.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, suku bunga kemungkinan masih akan ditahan, setidaknya dalam waktu dekat.

Menurut David, BI baru saja memangkas suku bunga pada pertemuan sebelumnya, sehingga ruang untuk kembali menurunkan suku bunga dalam waktu cepat menjadi terbatas. Selain itu, ia menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik global yang berpotensi mendorong ekspektasi inflasi ke depan.

"Peluang pemangkasan BI Rate pada RDG Juni relatif terbatas, mengingat peningkatan tensi geopolitik dikhawatirkan akan memicu ekspektasi peningkatan inflasi ke depan," ungkap David kepada Kontan, Senin (16/6).

Baca Juga: BI Diproyeksi Mempertahankan Suku Bunga Acuan 5,5% di Juni 2025

David melanjutkan, dari sisi eksternal, Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat juga diperkirakan akan menunda rencana pemangkasan suku bunga acuannya. Hal ini dinilai akan semakin mempersempit ruang bagi BI untuk melanjutkan siklus pelonggaran moneter dalam waktu dekat.

"The Fed juga berpotensi menunda pemangkasan suku bunga," tambahnya.

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, pasar diperkirakan akan mengalihkan fokus pada stabilitas nilai tukar dan pengendalian inflasi ketimbang mendorong pelonggaran moneter agresif dalam jangka pendek.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×