Reporter: Adi Wikanto, Vendy Yhulia Susanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran yang menewaskan Ali Khamenei bakal memicu kenaikan harga minyak mentah. Walhasil, harga bahan bakar minyak (BBM) diprediksi akan kembali naik.
Pertamina baru saja menaikkan harga BBM non subsidi mulai 1 Maret 2026. Berdasarkan pengumuman di laman resmi Pertamina.com, Sabtu (28/2/2026), harga terbaru BBM di SPBU Pertamina adalah sebagai berikut untuk wilayah Jabodetabek, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara:
- Pertamax (RON 92): dari Rp 11.800 per liter naik menjadi Rp 12.300
- Pertamax Green 95: dari Rp 12.450 per liter naik menjadi Rp 12.900
- Pertamax Turbo (RON 98): dari Rp 12.700 per liter naik menjadi Rp 13.100
- Dexlite (CN 51): dari Rp 13.250 per liter naik menjadi Rp 14.200
- Pertamina Dex (CN 53): dari Rp 13.500 per liter naik menjadii Rp 14.500
Ke depan, harga BBM diprediksi naik lagi karena gejolak di Timur Tengah pasca serangan AS dan Israel ke Iran.
Baca Juga: Ditjen Pajak Bisa Kantongi Data Transaksi Kartu Kredit, Ekonom Indef: Tak Perlu Panik
Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) Rahma Gafmi mengatakan, Iran memiliki posisi geografis yang sangat strategis, terutama karena berada di antara Teluk Persia dan Laut Oman. Selat Hormuz yang terletak di antara Iran dan Oman merupakan salah satu jalur laut paling vital di dunia.
Sekitar 20%–30% produksi minyak global atau sekitar 20 juta barel per hari melintasi Selat Hormuz.
“Jika Selat Hormuz ditutup, maka akan berdampak besar pada pasokan minyak global, yang dapat menyebabkan kenaikan harga minyak dan mengganggu ekonomi global,” ujar Rahma kepada Kontan, Minggu (1/3/2026).
Rahma menegaskan, Selat Hormuz bukan sekadar jalur perairan biasa, melainkan titik cekik (choke point) ekonomi dunia. Meski lebarnya hanya sekitar 21 mil, jalur ini menjadi urat nadi distribusi energi global, termasuk pasokan LNG untuk Eropa.
Artinya, bahan bakar untuk kendaraan, pesawat, hingga industri manufaktur di berbagai negara sangat bergantung pada stabilitas jalur ini.
Selain Selat Hormuz, Bab el-Mandeb yang terletak di antara Yaman dan Djibouti juga merupakan jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Gangguan di kawasan ini akan memperparah tekanan terhadap perdagangan global.
“Sejarah membuktikan, pada Perang Tanker 1980-an dan ketegangan 2019, serangan terbatas saja sudah membuat harga minyak melonjak tajam,” kata Rahma.
Tonton: Rusia Desak Penghentian Serangan AS & Israel ke Iran: Dampak Regional & Global
Skenario Harga Minyak dan Risiko Koreksi Global
Ekonom Bright Institute Yanuar Rizky menilai, bulan Maret biasanya menjadi periode re-balancing portofolio hedge fund, yang kerap memicu koreksi pasar.
Menurutnya, sebelum serangan terjadi, outlook rebalancing Maret–Mei sudah memasukkan harga minyak sebagai variabel kunci, dengan tiga skenario harga minyak WTI:
1. Di bawah US$ 65 per barel
2. US$ 65 – US$ 70 per barel
3. Di atas US$ 70 per barel
Dengan eskalasi konflik Iran, Yanuar melihat peluang harga WTI masuk ke skenario moderat US$ 65–US$ 70 per barel, bahkan berisiko melonjak di atas US$ 70 per barel.
“Kalau reli di atas US$ 70 pada Maret–Mei, kemungkinan akan membuat bursa saham dan surat utang pemerintah terkoreksi tajam,” jelas Yanuar.
Jika harga bertahan di US$ 65–US$ 70, inflasi berpotensi naik namun daya beli konsumen energi tertahan. Konsekuensinya, volatilitas saham dan yield obligasi meningkat.
Harga Emas Bisa Tembus US$ 6.000
Analis Komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut eskalasi ini sebagai babak baru memanasnya geopolitik Timur Tengah yang berpotensi memicu lonjakan harga komoditas safe haven.
“Ini kemungkinan besar harga emas akan naik,” ujar Ibrahim.
Jika perang berlanjut, Ibrahim memproyeksikan harga emas dunia bisa mencapai US$ 6.000 per troi ons pada akhir kuartal I 2026. Harga emas Antam bahkan berpotensi menyentuh Rp 3,5 juta per gram.
Sementara itu, harga minyak WTI diperkirakan bisa mencapai US$ 80 per barel pada akhir kuartal I 2026 jika konflik semakin meluas.
Tonton: Dampak Perang di Timur Tengah, Pemerintah Imbau Tunda Ibadah Umrah, Haji?
Dampak Langsung ke Indonesia
Rahma memetakan setidaknya tiga dampak besar bagi Indonesia:
1. Beban Subsidi Energi Membengkak
Lonjakan harga minyak global akan meningkatkan beban subsidi BBM dan listrik. Pemerintah berpotensi merealokasi anggaran pembangunan untuk perlindungan sosial.
2. Rupiah Tertekan hingga Rp 17.000 per Dolar AS
Pelemahan rupiah berisiko semakin dalam. Jika menembus Rp 17.000 per dolar AS, inflasi impor akan meningkat karena bahan baku industri manufaktur Indonesia masih bergantung pada pasar luar negeri.
3. Risiko Keamanan dan Radikalisasi
Instabilitas Timur Tengah dapat memicu gerakan radikal transnasional. Sentimen anti-Barat yang meningkat berpotensi dimanfaatkan aktor non-negara untuk mengaktifkan kembali sel tidur di Asia Tenggara.
Tonton: Israel & AS Serang Iran, Trump Sebut Khamenei Telah Meninggal
Strategi yang Perlu Ditempuh Indonesia
Rahma mendorong pemerintah memperkuat fondasi ekonomi domestik, khususnya sektor energi. Diversifikasi energi melalui pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) menjadi langkah krusial untuk mengurangi ketergantungan impor minyak.
Selain itu, Indonesia perlu mengintensifkan diplomasi aktif dengan negara-negara Timur Tengah dan organisasi internasional guna mendorong penyelesaian damai konflik.
Penguatan keamanan siber dan intelijen juga penting untuk mengantisipasi ancaman radikalisasi dan terorisme.
Rahma menegaskan, situasi geopolitik Timur Tengah saat ini sangat kompleks dan dinamis. Konflik Iran–Israel telah memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan ketegangan kawasan.
“Indonesia perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk menghadapi dampak ekonomi dan keamanan dari konflik ini,” pungkas Rahma.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













