kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.843.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.938   -57,00   -0,34%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Inflasi Diramal Bertahan Tinggi Direntang 4%-5,5% Hingga Juli 2026


Senin, 02 Maret 2026 / 15:47 WIB
Inflasi Diramal Bertahan Tinggi Direntang 4%-5,5% Hingga Juli 2026
ILUSTRASI. Inflasi Februari 2026 capai 4,76%, diprediksi terus tinggi hingga Juli. Daya beli masyarakat berpotensi tertekan, ini penyebab utamanya.


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Inflasi diperkirakan masih berada di rentang yang tinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara memperkirakan, hingga Juni atau Juli 2026 inflasi diperkirakan masih berada di rentang 4% hingga 5,5% year on year (yoy).

Untuk diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi tahunan pada Februari 2026 mencapai 4,76% year on year (yoy). Inflasi ini meningkat dari inflasi Januari 2026 yang sebesar 3,55% yoy.

“Inflasi masih berada di rentang 4%-5,5% yoy di Juni-Juli 2026,” tutur Bhima kepda Kontan, Senin (2/3/2026).

Baca Juga: Pemerintah RI Antisipasi Gangguan Pasokan Minyak akibat Konflik Iran dengan Israel-AS

Bhima membeberkan, faktor penyebab inflasi Februari 2025 disebabkan inflasi bahan pangan bergejolak tercatat 4,01% yoy. Kondisi tersebut lanjutnya, menjelaskan tekanan harga pangan yang tinggi, bukan hanya soal faktor cuaca, seasonal Ramadan tapi juga efek dari adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Adapun CELIOS melakukan identifikasi di daerah dengan jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terbanyak ada kenaikan harga ayam, beras, dan telur serta sayuran.

Bhima menilai korelasi tersebut bersifat positif karena adanya perebutan stok di tingkat produsen antara kebutuhan dapur MBG dan pedagang eceran. Kondisi ini dinilai berpotensi menekan daya beli masyarakat, baik kelas menengah maupun aspiring middle class.

Aspiring middle class adalah kelompok masyarakat calon kelas menengah yang telah keluar dari kemiskinan namun belum memiliki keamanan ekonomi penuh.

Baca Juga: Konflik AS Israel-Iran Memanas, Mendag Dorong Penguatan Pasar Domestik

Selain itu, pada periode Ramadan dan Lebaran, masyarakat disebut akan lebih memprioritaskan kebutuhan pokok dan persiapan mudik meskipun menerima Tunjangan Hari Raya (THR).

“Dampaknya durasi tinggal di kampung halaman saat mudik misalnya berkurang, atau pilihan moda transportasi nya bergeser ke yang lebih terjangkau,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×