kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Ekonom BCA Proyeksi BI Kerek Suku Bunga 50 Bps Jika Harga BBM Naik & Inflasi 4%


Selasa, 12 Mei 2026 / 20:08 WIB
Ekonom BCA Proyeksi BI Kerek Suku Bunga 50 Bps Jika Harga BBM Naik & Inflasi 4%
ILUSTRASI. Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia diproyeksi masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate apabila tekanan inflasi meningkat akibat lonjakan harga minyak dunia.

Menurut Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual, sejauh ini BI masih cenderung mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, arah kebijakan moneter dapat berubah jika kenaikan harga energi mulai mendorong inflasi domestik lebih tinggi, terutama melalui penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM).

“Saat ini masih tetap. Tapi kalau inflasi naik misal akibat kenaikan harga BBM, BI Rate diproyeksikan naik,” ujar David kepada Kontan, Selasa (12/5/2026).

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 17.529, Bank Indonesia Ungkap Penyebab Tekanan Terbaru

Ia menjelaskan, besaran kenaikan suku bunga nantinya akan sangat bergantung pada seberapa besar dampak kenaikan harga BBM terhadap inflasi nasional.

Menurut David, apabila inflasi bergerak mendekati level 4%, maka BI berpotensi menaikkan suku bunga acuan sekitar 50 basis poin (bps).

Tekanan terhadap inflasi sendiri berpotensi meningkat seiring lonjakan harga minyak mentah dunia akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Pada perdagangan Selasa (12/5/2026), harga minyak mentah Brent tercatat naik 86 sen atau 0,8% menjadi US$ 105,07 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 99 sen atau 1% ke level US$ 99,06 per barel.

Kenaikan harga minyak terjadi karena upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai masih jauh dari titik temu.

Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global dan potensi kenaikan inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Bagi Indonesia yang masih berstatus net importer minyak, lonjakan harga minyak berpotensi menekan fiskal pemerintah, meningkatkan tekanan terhadap rupiah, hingga memicu kenaikan harga energi domestik.

Baca Juga: Pembangunan Koperasi Merah Putih Dikebut, Tapi Tak Diiringi Tata Kelola yang Mumpuni

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×