Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Indonesia diperkirakan akan melebar hingga akhir 2026.
Peningkatan impor, terutama akibat tingginya harga minyak dunia dan belanja pemerintah yang masih kuat, diperkirakan menjadi faktor utama pelebaran tersebut.
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia (BCA) David Sumual memproyeksikan, defisit neraca transaksi berjalan Indonesia akan mencapai sekitar 1,3% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada akhir 2026.
Proyeksi tersebut meningkat dibandingkan realisasi CAD pada 2025 yang tercatat sebesar 0,11% dari PDB. “Sampai akhir 2026 defisit neraca berjalan diperkirakan melebar ke kisaran 1,3% PDB,” ujar David kepada Kontan, Selasa (4/8/2026).
Baca Juga: Harga Minyak Naik, Defisit Neraca Transaksi Berjalan Bisa Melebar, Rupiah Terpukul
Menurutnya, pelebaran tersebut didorong oleh kenaikan impor seiring harga minyak yang masih relatif tinggi.
Selain itu, belanja pemerintah yang tetap kuat turut meningkatkan permintaan impor, sementara pertumbuhan ekspor diperkirakan masih terbatas dari sisi volume.
Meski demikian, David menilai kondisi transaksi eksternal Indonesia masih mendapat penopang dari neraca finansial. Ia memperkirakan neraca finansial hingga akhir tahun masih akan mencatatkan surplus, sehingga dapat membantu membiayai defisit transaksi berjalan.
"Sementara itu, kinerja neraca finansial diperkirakan akan sedikit surplus," katanya.
Namun, David mengingatkan bahwa pelebaran CAD tetap membawa konsekuensi terhadap stabilitas eksternal.
Defisit yang semakin besar berpotensi meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah maupun cadangan devisa apabila aliran modal masuk tidak cukup kuat untuk menutup kebutuhan pembiayaan eksternal.
Baca Juga: Defisit Neraca Dagang Diprediksi Hanya Sementara, Ekonom: Ada Peluang Kembali Surplus
"Tentunya dengan defisit yang lebih tinggi ada risiko tekanan terhadap rupiah dan cadangan devisa," ujarnya.
Karena itu, ia menilai pemerintah perlu memperkuat kebijakan yang mampu meningkatkan ekspor agar ketergantungan terhadap impor tidak semakin memperlebar defisit transaksi berjalan.
"Diperlukan kebijakan-kebijakan yang bisa mendorong ekspor, terutama di luar sektor sumber daya alam (SDA)," pungkas David.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
