Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Konflik yang sedang terjadi di Timur Tengah yang menyebabkan kenaikan biaya impor dan harga minyak, diperkitakan bisa memperlebar defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).
Kepala Ekonom BCA David Sumual menyampaikan, pada awalnya ia memproyeksikan defisit neraca transaksi berjalan di 2026 akan mencapai 0,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
“Namun, melihat perkembangan terakhir, defisit neraca transaksi berjalan bisa lebih baik dari angka tersebut,” tutur David kepada Kontan, Jumat (3/4/2026).
Baca Juga: Harga Minyak Naik pada Selasa (31/3) Pagi, Dipicu Memanasnya Perang Timur Tengah
Ia melihat, dalam kondisi perang utamanya yang sedang terjadi di Timur Tengah saat ini, ada menyebabkan harga komoditas meningkat secara keseluruhan, efeknya bisa berdampak baik untuk neraca transaksi berjalan, meski korelasinya lemah.
Hal ini, disebabkan oleh selain harga minyak yang naik, harga komoditas ekspor Indonesia lainnya seperti batubara, crude palm oil (CPO), juga turut meningkat.
David menambahkan bahwa permintaan terhadap komoditas tersebut juga meningkat karena negara-negara mencari energi alternatif.
“Ditambah lagi jika terdapat depresiasi yang terkontrol, hal itu dapat menjadi tambahan untuk ekspor Indonesia karena komoditas kita menjadi lebih murah,” ungkapnya.
Dengan demikian, ia memperkirakan, secara nominal ekonomi bisa tumbuh lebih baik meskipun secara riil dapat menurun.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Awal Pekan Ini, Imbas Kekhawatiran Meluasnya Konflik Timur Tengah
Namun, ia mengingatkan bahwa jika perang memanas dan berkepanjangan, hal tersebut tentu akan berdampak buruk terhadap ekonomi Indonesia, terutama karena potensi peningkatan inflasi.
Dalam kesempatan berbeda, Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan, Bank Permata, Faisal Rachman, menilai, memasuki kuartal II 2026, sejalan dengan pola musiman pembayaran imbal hasil aset domestik kepada investor nonresiden.
Selain faktor musiman tersebut, tekanan eksternal juga diperkirakan meningkat. Kenaikan harga minyak dunia serta kebutuhan devisa untuk perjalanan ibadah haji turut menambah beban transaksi berjalan, di tengah tren surplus neraca perdagangan yang terus menyusut.
Di sisi lain, sentimen global yang masih cenderung risk off membuat aliran dana portofolio ke pasar domestik belum stabil. Tekanan pada arus modal ini dinilai masih akan berlanjut dalam waktu dekat.
Dengan kombinasi faktor tersebut, Faisal menyebut neraca pembayaran (balance of payments/BoP) Indonesia diperkirakan masih berada dalam tekanan. Kondisi ini berpotensi menekan cadangan devisa (cadev) nasional.
Baca Juga: Harga Minyak Naik pada Rabu (1/4) Pagi, Pasar Menimbang Prospek Penyelesaian Perang
“Alhasil, rupiah juga pada kuartal II 2026 akan cenderung masih berada dalam tekanan dan kemungkinan akan tetap berada di kisaran Rp 17.000,” ungkapnya.
Sementara itu, ia memperkirakan, defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal II 2026 bakan mencapai 1,00 hingga 1,31% dari PDB.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













