Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perputaran ekonomi selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) diproyeksi tidak akan segurih tahun-tahun sebelumnya.
Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda menilai realisasi pergerakan uang di berbagai destinasi wisata utama, termasuk Yogyakarta, berpotensi meleset dari target awal akibat tergerusnya daya beli masyarakat.
Huda menyoroti adanya kesenjangan antara proyeksi jumlah wisatawan dengan realita di lapangan. Ia mencontohkan, di Yogyakarta yang tadinya diperkirakan bakal diserbu jutaan orang, kenyataannya tidak mencapai angka tersebut, sehingga berdampak langsung pada omzet pelaku usaha lokal.
"Artinya adalah perkiraan perputaran uang juga akan kurang dari proyeksi awal. Di Jogja saja saya rasa perputaran ekonominya turun dibandingkan dengan tahun lalu. Terlebih kota-kota lainnya yang mengalami penurunan serupa," ujar Huda kepada Kontan.co.id, Selasa (6/1/2026).
Baca Juga: Polri Tetapkan Tersangka Korporasi dan Perorangan Kasus Kayu Gelondongan di Sumatera
Menurut Huda, faktor utama yang menjegal antusiasme berlibur kali ini adalah isu daya beli yang belum pulih. Masyarakat cenderung menahan belanja atau memilih opsi liburan yang lebih hemat karena kenaikan pendapatan tahun depan dianggap tidak sesuai dengan harapan.
"Ada yang memilih liburan dekat domisili karena kenaikan pendapatan tidak sesuai dengan harapan. Tiket pesawat juga melambung tinggi, meskipun sudah diberikan diskon tetap saja masih tidak terjangkau bagi sebagian kalangan," tegasnya.
Kondisi ini, lanjut Huda, menunjukkan bahwa meskipun pergerakan orang tetap terlihat ramai di tempat wisata, namun kualitas belanja atau spending per kapita cenderung menurun. Masyarakat lebih selektif dalam mengeluarkan uang untuk kebutuhan sekunder di tengah ketidakpastian ekonomi.
Sebelumnya, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meyakini realisasi belanja masyarakat di momen Nataru akan berada di atas proyeksi awal yang sebesar Rp 107,56 triliun.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Sarman Simanjorang menyebutkan bahwa angka tersebut didorong oleh pergerakan sekitar 119,5 juta orang atau setara dengan 29,87 juta keluarga yang melakukan mudik dan perjalanan wisata.
“Kami memprediksi perputaran uang bisa di atas Rp 107,56 triliun, mengingat pelaku usaha swasta juga jor-joran memberikan harga diskon saat belanja di akhir tahun,” ujar Sarman kepada Kontan.co.id, Selasa (6/1/2026).
Sarman menilai, membludaknya pengunjung di berbagai destinasi wisata favorit seperti Malioboro Yogyakarta, Malang, Bali, hingga Labuan Bajo menjadi sinyal pulihnya daya beli masyarakat. Di Jakarta, pusat keramaian seperti Ancol, Ragunan, dan TMII juga terpantau padat merayap.
Baca Juga: MBG hingga Swasembada Pangan Bakal Jadi Pembahasan di Retret Hambalang
Selanjutnya: Indeks LQ45 Bergerak Loyo, Saham Sektor Emas dan Barang Konsumsi Bisa Jadi Penopang
Menarik Dibaca: Kim Seon-ho dan Go Youn-jung Siap Beri Kejutan Penggemar di Jakarta
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












