kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.641.000   -14.000   -0,53%
  • USD/IDR 18.035   45,00   0,25%
  • IDX 5.873   -113,12   -1,89%
  • KOMPAS100 763   -18,32   -2,34%
  • LQ45 583   -12,03   -2,02%
  • ISSI 203   -3,37   -1,63%
  • IDX30 330   -6,18   -1,83%
  • IDXHIDIV20 410   -5,48   -1,32%
  • IDX80 87   -1,95   -2,19%
  • IDXV30 111   -1,67   -1,48%
  • IDXQ30 107   -1,52   -1,40%

CELIOS: Komitmen Investasi Prabowo Masih Jadi Pencapaian Semu


Rabu, 08 Juli 2026 / 20:18 WIB
CELIOS: Komitmen Investasi Prabowo Masih Jadi Pencapaian Semu
ILUSTRASI. Presiden Prabowo Subianto melakukan pertemuan dengan 13 pimpinan perusahaan super besar Jepang di To (Seskab RI/dok)


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah mengklaim komitmen investasi terus meningkat dalam 1,5 tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Berbagai kerja sama strategis juga diteken bersamaan dengan rentetan kunjungan kenegaraan presiden ke berbagai negara.

Merespon hal ini, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda menilai banyaknya komitmen investasi yang diumumkan pemerintah belum bisa dijadikan indikator keberhasilan menarik modal asing ke Indonesia.

Menurut Huda, publik seolah kembali mengalami situasi serupa seperti pada berbagai pengumuman investasi sebelumnya, termasuk saat pemerintah mengklaim investor mengantre masuk ke Indonesia maupun proyek Ibu Kota Nusantara (IKN).

“Seolah kita deja vu dengan kata-kata investor sudah antre masuk ke Indonesia atau IKN. Jika melihat banyaknya kesepakatan yang akhirnya hanya menjadi kesepakatan tanpa realisasi,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (8/7/2026).

Ia menjelaskan, berbagai nota kesepahaman maupun komitmen investasi yang dihasilkan dari kunjungan Presiden Prabowo ke luar negeri maupun pertemuan bilateral antar kepala negara belum akan memberikan dampak ekonomi apabila belum diwujudkan menjadi investasi langsung.

Akibatnya, menurut Huda, jumlah komitmen investasi terus bertambah, tetapi manfaatnya terhadap masyarakat masih sangat terbatas.

Baca Juga: Pemerintahan Prabowo Banjir Komitmen Investasi, Harus Dikonversi Jadi Proyek Nyata

“Makanya ada pertumbuhan kesepakatan investasi, namun minim lapangan pekerjaan. Seolah itu hanya menjadi pencapaian semu karena tidak ada manfaatnya bagi masyarakat,” katanya.

Huda menilai keberhasilan investasi seharusnya diukur dari dampak akhirnya (outcome), bukan hanya besarnya nilai komitmen yang diumumkan pemerintah.

Menurut dia, hingga kini berbagai indikator ekonomi belum menunjukkan adanya lonjakan investasi langsung yang signifikan.

Salah satunya tercermin dari nilai tukar rupiah yang masih terus mengalami pelemahan dalam beberapa tahun terakhir.

“Nilai tukar rupiah melemah dari tahun ke tahun yang artinya tidak ada investasi langsung yang masuk secara signifikan,” ujarnya.

Selain itu, aktivitas sektor manufaktur juga dinilai belum memperlihatkan ekspansi yang kuat.

Huda menyoroti Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang dalam dua tahun terakhir lebih sering berada di zona kontraksi atau non-ekspansif.

Kondisi tersebut, menurutnya, mengindikasikan belum adanya ekspansi usaha yang cukup besar sebagai dampak dari investasi baru.

“PMI manufaktur yang sering di zona non ekspansif dalam dua tahun terakhir menunjukkan tidak ada ekspansi usaha secara signifikan,” katanya.

Ia juga menilai struktur ketenagakerjaan Indonesia masih didominasi pekerja informal.

Menurut Huda, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) yang mampu menciptakan lapangan kerja formal belum tumbuh optimal.

“Dari sisi pekerja yang lebih banyak informal menunjukkan minimnya investasi FDI di Indonesia,” pungkasnya.

Baca Juga: Prabowo Jawab Isu 'Sell Indonesia': Banyak Investor Asing Ingin Berinvestasi

Terpisah, CEO Danantara Rosan P. Roeslani memastikan, antusiasme investor global untuk masuk ke Indonesia masih kuat. Pihaknya juga mengklaim telah bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Tony Blair ke kantor Danantara (7/7/2026) yang menyatakan minat melakukan penjajakan investasi di tanah air.

“Minat tinggi investor yang disampaikan Tony Blair menegaskan bahwa Indonesia berada di radar utama investor global. Kami melihat antusiasme yang sangat besar untuk berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi kita,” ujar Rosan dalam keterangan resminya hari ini.

Rosan menjelaskan, dalam pertemuan tersebut dibahas peluang kolaborasi untuk mempercepat transformasi BUMN, peningkatan investasi, dan pembangunan nasional.

Rosan menambahkan, respons positif investor menunjukkan bahwa kebijakan ekonomi pemerintah, termasuk pembentukan Danantara, mendapat perhatian kuat dari pasar. Danantara akan menjembatani modal internasional dengan proyek-proyek strategis nasional yang berdampak langsung bagi pertumbuhan ekonomi.

“Danantara siap menjadi jembatan bagi modal internasional untuk masuk secara efektif. Sentimen pasar sangat positif terhadap langkah-langkah yang diambil pemerintah,” kata Rosan.

Antusiasme investor seperti yang dijelaskan Rosan tersebut juga tercermin dari kinerja investasi nasional. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi pada triwulan I 2026 mencapai Rp498,8 triliun atau tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian tersebut telah menyerap lebih dari 706 ribu tenaga kerja dan menjadi awal positif menuju target investasi nasional tahun ini.

Baca Juga: RI Kebanjiran Minat Investasi, Enam KEK Baru Tinggal Menunggu Restu Prabowo

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×