kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.880.000   90.000   3,23%
  • USD/IDR 16.850   -59,00   -0,35%
  • IDX 8.951   -41,17   -0,46%
  • KOMPAS100 1.235   -4,75   -0,38%
  • LQ45 874   -1,52   -0,17%
  • ISSI 329   -0,59   -0,18%
  • IDX30 449   0,67   0,15%
  • IDXHIDIV20 532   3,66   0,69%
  • IDX80 137   -0,49   -0,35%
  • IDXV30 148   1,36   0,93%
  • IDXQ30 144   0,72   0,50%

Calon Deputi Gubernur BI Solikin Sebut Ekonomi Global Masuki Fase Lebih Menantang


Jumat, 23 Januari 2026 / 14:34 WIB
Calon Deputi Gubernur BI Solikin Sebut Ekonomi Global Masuki Fase Lebih Menantang
ILUSTRASI. Perekonomian global disebut Solikin M. Juhro masuk fase TUNA, bukan lagi VUCA. Peluang Indonesia jadi negara maju dipertaruhkan. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Solikin M. Juhro menilai perekonomian global tengah memasuki fase baru yang jauh lebih menantang.

Ia menyebut fase tersebut sebagai TUNA, singkatan dari turbulence (turbulensi), uncertainty (ketidakpastian), novelty (kebaruan), dan ambiguity (ambiguitas).

Menurut Solikin, fase TUNA menandai berakhirnya era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity) yang selama ini menjadi rujukan dalam membaca dinamika global.

“Volatilitas sudah berubah menjadi turbulensi. Bukan hanya kompleksitas, tetapi juga muncul novelty-novelty atau kebaruan, terutama di era digital, dengan kadar ketidakpastian yang semakin tinggi,” ujar Solikin saat mengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Deputi Gubernur BI di Komisi XI DPR RI, Jakarta, Jumat (23/1/2026).

Baca Juga: Jalani Fit and Proper Test Calon Deputi Gubernur BI, Ini Strategi Solikin M Juhro

Solikin menjelaskan, fase TUNA merupakan kenormalan baru dalam perekonomian global yang ditandai oleh dinamika yang semakin kompleks dan sulit diprediksi. Memasuki 2026, ketidakpastian global masih tinggi, dipicu oleh ketegangan geopolitik yang berkepanjangan serta meningkatnya volatilitas di pasar keuangan dunia.

Kondisi tersebut, lanjut Solikin, menahan laju pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan tetap moderat dan menjadi tantangan besar bagi banyak negara, termasuk Indonesia, yang tengah berupaya menuju status negara maju.

“Gelombang ini akan memengaruhi pencapaian cita-cita perekonomian nasional untuk menuju negara atau perekonomian Indonesia maju,” tegasnya.

Menghadapi tantangan tersebut, Solikin menekankan pentingnya menavigasi arah kebijakan ekonomi nasional melalui penguatan sinergi antarotoritas, mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, serta memastikan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Baca Juga: BI Catat Uang Beredar (M2) Desember 2025 Tumbuh 9,6%, Kredit Mulai Menggeliat

Ia menambahkan, strategi tersebut tidak hanya bertujuan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global, tetapi juga menempatkan kualitas pertumbuhan sebagai prioritas utama.

“Kualitas pertumbuhan menjadi kunci untuk mencapai visi tersebut, sejalan dengan mandat Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai rupiah, sistem pembayaran, serta stabilitas sistem keuangan,” jelas Solikin.

Mandat tersebut, menurutnya, dijalankan melalui tiga misi utama Bank Indonesia, yakni menjaga stabilitas yang dinamis, mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, serta memastikan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.

Selanjutnya: Pidato di WEF 2026, Prabowo Sebut Tak Pandang Bulu Soal Korupsi

Menarik Dibaca: Diskon Pepper Lunch 50%: BRI Beri Promo Kilat 3 Hari

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×