Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Presiden Prabowo Subianto mengaku terkejut dengan jumlah entitas perusahaan yang berada di bawah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Menurutnya, jumlah perusahaan yang harus dikelola negara ternyata jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
Prabowo mengatakan, awalnya ia mengira jumlah perusahaan yang berada dalam ekosistem BUMN sekitar 250 entitas. Namun setelah melihat data lebih jauh, jumlah tersebut ternyata mencapai lebih dari 1.000 perusahaan.
Ia menilai tidak ada praktik manajemen di dunia yang mampu mengelola ribuan entitas perusahaan secara efektif di bawah satu manajemen.
Prabowo menjelaskan bahwa pembentukan BUMN pada awalnya merupakan inisiatif para pendiri bangsa untuk memenuhi kebutuhan dasar negara yang saat itu belum memiliki industri strategis.
Sebagai contoh, ketika Indonesia belum memiliki industri tekstil, negara mendirikan pabrik tekstil seperti Patal Senayan. Demikian pula saat Indonesia belum memiliki industri kertas untuk memenuhi kebutuhan buku dan pendidikan, negara mendirikan pabrik kertas.
Di sektor kesehatan, negara juga mendirikan berbagai perusahaan farmasi karena pada masa awal kemerdekaan Indonesia belum memiliki industri obat-obatan.
Namun demikian, Prabowo menilai seiring berjalannya waktu niat baik tersebut mengalami berbagai penyimpangan dalam praktiknya. Ia mencontohkan perusahaan negara seperti Pertamina yang awalnya didirikan untuk kepentingan strategis negara, namun kemudian berkembang memiliki banyak anak perusahaan hingga ke tingkat cucu perusahaan.
Prabowo mengaku terkejut ketika mengetahui bahwa Pertamina memiliki sekitar 200 anak dan cucu perusahaan.
Selain itu, ia juga menyoroti aturan yang menurutnya tidak masuk akal terkait proses audit perusahaan-perusahaan tersebut. Prabowo menyebutkan bahwa perusahaan BUMN dapat diaudit oleh negara, tetapi terdapat aturan yang menyebutkan bahwa cucu perusahaan tidak dapat diaudit oleh negara.
“Dan aneh lagi ada peraturan-peraturan yang lebih aneh lagi. Kalau BUMN boleh diaudit oleh negara. Katanya kalau cucu perusahaan ndak boleh diaudit. Peraturan dari mana ini? Jadi saudara-saudara, premis kita ternyata benar,” tutur Prabowo dalam sambutannya di HUT ke-1 Danantara Indoensia, Rabu (11/3/2026).
Prabowo menegaskan bahwa pemerintah saat ini tengah melakukan konsolidasi pengelolaan BUMN agar lebih efisien dan profesional. Konsolidasi tersebut dilakukan melalui satu manajemen yang dijalankan secara rasional dan mengacu pada standar manajemen terbaik dunia, yakni BPI Dananyara.
Ia menyampaikan bahwa melalui konsolidasi tersebut, tingkat return on asset (ROA) yang diterima saat ini telah berada di atas 300%. Meski demikian, menurutnya capaian tersebut masih jauh dari sasaran yang diharapkan.
Prabowo menjelaskan bahwa perusahaan yang baik seharusnya memiliki ROA minimal sekitar 10%. Jika kinerjanya baik, ROA dapat mencapai sekitar 12%, sedangkan perusahaan yang sangat baik bisa mencapai sekitar 15%.
Ia menilai target yang realistis adalah sekitar 10%, meskipun ia memahami bahwa dalam tahun-tahun pertama target tersebut kemungkinan belum dapat tercapai.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa apabila ROA hanya berada di kisaran 5%, maka BPI Danantara setidaknya harus mampu mengembalikan sekitar US$ 50 miliar kepada negara setiap tahun atau setara dengan sekitar Rp 800 triliun.
Menurutnya, target yang harus dicapai oleh pimpinan Danantara masih cukup jauh. Meski begitu, ia tetap menyampaikan apresiasi atas capaian yang telah diraih sekaligus mengingatkan bahwa sasaran kinerja masih perlu ditingkatkan.
“Tapi saya ingatkan sasaran masih cukup jauh. Saudara harus bisa memberi return 5% minimal, kembalikan ke negara US$ 50 miliar dolar minimal,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












