Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Puasa Ramadhan 2026 kini memasuki 10 hari terakhir. Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah pun diperkirakan akan jatuh pada pekan ketiga Maret 2026.
Meski demikian, penetapan 1 Syawal 1447 Hijriyah di Indonesia tidak selalu berlangsung serentak. Ada kemungkinan perbedaan antara keputusan pemerintah dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah karena menggunakan metode penentuan yang berbeda.
Lantas, kapan 1 Syawal 1447 H atau Lebaran 2026 dimulai menurut pemerintah, Muhammadiyah, dan NU? Berikut prediksi awal Lebaran 2026 serta penjelasan selengkapnya.
1 Syawal menurut Muhammadiyah
Muhammadiyah telah menetapkan lebih awal bahwa 1 Syawal 1447 H atau Hari Raya Idul Fitri 2026 jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan ini merujuk pada Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang hasil hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H.
Keputusan tersebut didasarkan pada perhitungan hisab Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dengan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Ijtimak jelang Syawal 1447 H terjadi pada Kamis, 30 Ramadan 1447 H, bertepatan dengan 19 Maret 2026, pukul 01:23:28 UTC.
Pada saat matahari terbenam di hari ijtimak tersebut, sebelum pukul 24:00 UTC terdapat wilayah yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1.
Baca Juga: Maju Seleksi Bos OJK, Friderica Widyasari Dewi Ungkap Alasannya
1 Syawal menurut pemerintah
Pemerintah belum menetapkan secara resmi kapan Hari Raya Idul Fitri 2026 atau 1 Syawal 1447 H akan berlangsung. Kepastian tanggal Lebaran akan diumumkan setelah sidang isbat yang dijadwalkan pada Kamis, 19 Maret 2026, bertepatan dengan 29 Ramadan.
Sebagai gambaran awal, Kalender Hijriah Indonesia yang diterbitkan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama memperkirakan Idul Fitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Meski demikian, tanggal tersebut masih bersifat prediksi karena keputusan resmi tetap menunggu hasil sidang isbat.
Dalam sidang tersebut, penentuan awal Syawal dilakukan dengan dua cara, yakni perhitungan astronomi (hisab) dan pengamatan langsung terhadap hilal (rukyatul hilal). Jika bulan sabit terlihat dan memenuhi kriteria yang disepakati negara-negara MABIMS, maka 1 Syawal ditetapkan pada hari berikutnya. Namun jika hilal tidak terlihat, maka bulan Ramadan akan disempurnakan menjadi 30 hari.
Sidang isbat akan digelar di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama di Jakarta, mulai pukul 16.00 WIB. Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, menyebutkan bahwa proses penetapan ini melibatkan banyak pihak, seperti ahli astronomi dari BMKG dan BRIN, pengelola planetarium dan observatorium, perwakilan organisasi masyarakat Islam, serta instansi terkait lainnya.
“Karena melibatkan representasi yang luas, keputusan sidang isbat memiliki legitimasi keagamaan yang kuat,” tegasnya dikutip dari laman resmi Kemenag, Minggu (1/3/2026).
Baca Juga: Pemerintah Buka Opsi Tunda Pemberangkatan Haji Jika Konflik Timteng Terus Memanas













