kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.641.000   -14.000   -0,53%
  • USD/IDR 18.035   45,00   0,25%
  • IDX 5.873   -113,12   -1,89%
  • KOMPAS100 763   -18,32   -2,34%
  • LQ45 583   -12,03   -2,02%
  • ISSI 203   -3,37   -1,63%
  • IDX30 330   -6,18   -1,83%
  • IDXHIDIV20 410   -5,48   -1,32%
  • IDX80 87   -1,95   -2,19%
  • IDXV30 111   -1,67   -1,48%
  • IDXQ30 107   -1,52   -1,40%

Cadangan Devisa Diprediksi Tetap Stabil pada Semester II 2026


Rabu, 08 Juli 2026 / 16:56 WIB
Cadangan Devisa Diprediksi Tetap Stabil pada Semester II 2026
ILUSTRASI. Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) memproyeksikan cadangan devisa Indonesia tetap stabil pada semester II 2026.  (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) memproyeksikan cadangan devisa Indonesia tetap stabil pada semester II 2026. Cadangan devisa Indonesia pada Juni 2026 sedikit meningkat menjadi US$ 145,6 miliar dari US$ 144,9 miliar pada Mei, menandai peningkatan pertama setelah menurun empat bulan berturut-turut. 

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su mengatakan, pertahanan cadangan devisa BI selama periode ini ditutupi oleh pinjaman multi-mata uang yang lebih tinggi dengan penerbitan obligasi internasional US$ 1,5 miliar oleh Danantara serta obligasi Samurai dan Blue sebesar US$ 1,08 miliar.

Harry juga menyoroti kebijakan moneter lebih ketat dengan suku bunga BI yang naik sebesar 100 bps, membuat rupiah menguat ke bawah Rp 18.000 per dolar AS. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun biaya intervensi menjadi lebih mahal, hal itu telah membantu mendukung kepercayaan pasar dan menyediakan pasar keuangan domestik yang lebih stabil.

“Ke depan, dengan asumsi pemerintah dapat menyampaikan komunikasi fiskal yang lebih jelas dan lebih baik, kami memperkirakan cadangan devisa Indonesia akan tetap stabil di semester kedua tahun 2026,” ujar Harry Su dalam risetnya pada Rabu (8/7/2026). 

Baca Juga: BI Perkuat Dukungan ke UMKM dan Penyaluran Kredit untuk Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Meski demikian, Harry bilang, risiko penurunan tetap ada. Ketidakpastian seputar kebijakan moneter global, imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi, ketegangan geopolitik, dan potensi episode arus keluar modal dapat terus menghasilkan volatilitas pada mata uang pasar negara berkembang, termasuk rupiah. 

“Penurunan kinerja perdagangan Indonesia baru-baru ini perlu dipantau secara ketat, karena pendapatan ekspor yang lebih lemah dapat memperlambat laju akumulasi cadangan,” terang dia.  

Selain itu, BI telah berupaya untuk menekan spekulasi ritel domestik dengan menurunkan batas atas untuk pembelian tunai dan spot mata uang asing tanpa dokumen pendukung dari US$ 100.000 menjadi US$ 50.000 pada Mei 2026 dan pemotongan lainnya menjadi US$ 25.000 pada Juni 2026, sebelum pembatasan lebih lanjut menjadi US$ 10.000 yang berlaku efektif 1 Juli 2026.

Hal ini telah membantu cadangan devisa berada pada angka 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, lebih tinggi dari patokan kecukupan internasional sekitar tiga bulan. 

Sementara itu, Kiwoom Sekuritas menilai dari perspektif pasar keuangan, peningkatan cadangan devisa menjadi sentimen positif bagi aset domestik karena memperkuat kepercayaan investor terhadap fundamental eksternal Indonesia.

Ke depan, prospek cadangan devisa diperkirakan tetap terjaga seiring berlanjutnya arus masuk modal asing, surplus transaksi berjalan yang terkendali, serta kebijakan moneter yang tetap berfokus pada stabilitas nilai tukar.

Baca Juga: Porsi Pendapatan untuk Tabungan Menyusut, Konsumsi Rumah Tangga Menggerus Penghasilan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×