kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Bulog Antisipasi Penjarahan Logistik bagi Korban Bencana NTT, Belajar Kasus Sibolga


Minggu, 23 Agustus 2026 / 18:09 WIB
Bulog Antisipasi Penjarahan Logistik bagi Korban Bencana NTT, Belajar Kasus Sibolga
ILUSTRASI. Direktur Utama (Dirut) Bulog Ahmad Rizal Ramdhani (KONTAN/Lydia Tesaloni)


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perum Bulog menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi potensi penjarahan gudang dan gangguan keamanan stok pangan di wilayah terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah tersebut dilakukan dengan mempercepat distribusi logistik ke tujuh kabupaten/kota terdampak.

Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan langkah antisipasi tersebut dilakukan dengan belajar dari pengalaman penjarahan gudang Bulog di Sibolga, Sumatera Utara, saat bencana banjir sebelumnya.

“Kemarin pengalaman kami itu sangat bermanfaat, kejadian yang di Sibolga. Begitu kemarin langsung kami distribusikan dorongan logistik-logistik itu ke tujuh kabupaten kota yang sangat parah ini,” ujar Ahmad Rizal dalam konferensi pers di Kantor Bulog, Minggu (23/8/2026).

Menurutnya, sesaat setelah gempa terjadi, Bulog langsung menggelar rapat koordinasi dengan seluruh pimpinan gudang, pimpinan cabang, dan pimpinan wilayah Bulog di NTT.

Baca Juga: Bulog Pastikan Pasokan Beras untuk Korban Bencana NTT Aman, Stok Capai 93 Ribu Ton

Dari koordinasi tersebut, Bulog menginstruksikan setiap cabang untuk segera mendistribusikan minimal 20 ton beras dan 1.000 liter minyak goreng ke masing-masing kabupaten/kota terdampak.

Langkah tersebut dilakukan agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah kondisi darurat. Dengan ketersediaan logistik yang cukup di wilayah terdampak, Bulog berharap potensi gangguan keamanan terhadap fasilitas penyimpanan pangan dapat diminimalkan.

“Alhamdulillah semua gudang kita aman terkendali,” kata Ahmad.

Selain mempercepat distribusi, Bulog juga meminta dukungan TNI-Polri untuk membantu pengamanan gudang dan distribusi logistik di wilayah terdampak bencana.

Ahmad menilai pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kondisi keamanan selama masa tanggap darurat.

“Intinya sepanjang masyarakat terpenuhi kebutuhan logistiknya, insyaallah masyarakat juga akan tetap bisa dikendalikan,” ujarnya.

Baca Juga: Pengungsi Gempa NTT Tembus 110.785 Orang, Bantuan Capai 776 Ton

Lebih lanjut, Bulog sendiri memastikan stok pangan di NTT tetap mencukupi. Dalam perhitungan terbaru, stok yang tersedia di NTT mencapai 26.336 ton dan akan ditambah pasokan dari sejumlah wilayah sebesar 67.446 ton, sehingga total stok yang disiapkan mencapai 93.782 ton.

Dengan kebutuhan untuk bantuan bencana dan bantuan pangan selama tiga bulan diperkirakan sekitar 46.368 ton, Bulog memperkirakan masih memiliki cadangan sekitar 47.414 ton.

Ahmad menegaskan distribusi tambahan stok tersebut akan dilakukan secara bertahap sesuai perkembangan kebutuhan di masing-masing wilayah terdampak, sehingga kapasitas gudang tetap dapat dikelola dan pasokan tersedia saat dibutuhkan. 

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah warga yang mengungsi akibat gempa bumi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah. 

Baca Juga: Purbaya: Anggaran TKD Rp 44 Miliar untuk NTT Sudah Dikucurkan, Bisa untuk Bencana

Hingga Sabtu, total pengungsi mencapai 150.576 jiwa. Peningkatan ini menunjukkan bahwa dampak gempa masih dirasakan luas oleh masyarakat, terutama karena aktivitas gempa susulan yang belum berhenti. 

"Pengungsi juga bertambah dari angka yang kemarin 130-an ribu, sekarang sudah mencapai 150.576 jiwa," kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers secara daring pada Sabtu (22/8/2026). 

Menurut BNPB, lonjakan jumlah pengungsi dipicu oleh masih terjadinya gempa susulan setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah NTT pada 15 Agustus 2026. 

Kondisi ini membuat warga memilih bertahan di pengungsian demi keselamatan. 

BNPB mencatat, hingga 22 Agustus 2026, telah terjadi 5.012 gempa susulan dengan magnitudo berkisar antara 1,1 hingga 6,2. Dari jumlah tersebut, sebanyak 124 gempa susulan dilaporkan dapat dirasakan oleh masyarakat. 

Baca Juga: Bulog Serap 3,4 Juta Ton Beras, Baru Capai 85% Target Pengadaan Nasional

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×