kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 17.911   -17,00   -0,09%
  • IDX 6.193   74,07   1,21%
  • KOMPAS100 796   7,84   0,99%
  • LQ45 608   4,93   0,82%
  • ISSI 217   4,59   2,15%
  • IDX30 337   1,37   0,41%
  • IDXHIDIV20 431   1,76   0,41%
  • IDX80 91   0,94   1,05%
  • IDXV30 118   1,35   1,16%
  • IDXQ30 110   0,20   0,18%

Danantara Siapkan De-risking untuk Percepat Proyek Waste to Energy


Selasa, 06 Oktober 2026 / 20:34 WIB
Danantara Siapkan De-risking untuk Percepat Proyek Waste to Energy
ILUSTRASI. waste to energy (danantara/Danantara)


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pengelola Investasi (BPI Danantara) menyiapkan skema de-risking untuk mempercepat pengembangan proyek waste to energy (WTE) di Indonesia. Skema ini disiapkan untuk mengurangi risiko proyek sehingga dapat menarik investor untuk masuk ke sektor pengolahan sampah menjadi energi.

Managing Director, Global Relations & Communication BPI Danantara, Pahala Nugraha Mansury, mengatakan Danantara tidak hanya berperan sebagai investor atau co-investor, tetapi juga sebagai mitra yang membantu mengurangi risiko yang dihadapi proyek.

“Peran kita bukan hanya adalah sebagai pihak yang berinvestasi atau co-investor saja. Bagi para pemain-pemain asing yang ingin masuk ke Indonesia, mereka juga membutuhkan mitra yang bisa melakukan memfasilitasi berbagai kegiatan yang ada,” ujar Pahala dalam acara BIG Downstream Insights 2026 di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Menurut Pahala, salah satu risiko utama dalam proyek WTE adalah kepastian pasokan sampah. Pasokan tersebut harus terjamin agar fasilitas pengolahan sampah dapat beroperasi sesuai dengan kapasitas minimum yang dibutuhkan.

Baca Juga: Danantara Mulai Garap 3 Proyek Waste to Energy, Segera Buka Tender untuk 25 Kota

“Risiko suplai sampah bisa dilakukan pengelolaan dengan cara memberikan kepastian, berkoordinasi dengan local municipality, membuat kontrak yang memang bisa dilakukan,” tambahnya.

Pahala menyebut pengembangan WTE sebenarnya telah memiliki landasan regulasi sejak 2018. Namun, selama sekitar delapan tahun, program tersebut belum berjalan optimal.

Oleh karena itu, Danantara akan mengambil peran dalam melakukan de-risking proyek, termasuk memastikan kepastian pasokan sampah melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan penyusunan kontrak.

Danantara juga menyiapkan perusahaan platform bernama Denera yang akan menjadi mitra bagi investor maupun operator yang nantinya membangun fasilitas pengolahan sampah menjadi energi.

Baca Juga: Danantara Garap 13 Proyek Hilirisasi dengan Total Investasi Rp225 Triliun

Pahala mengatakan struktur pembagian risiko antara investor, Denera, dan Danantara menjadi perhatian dalam pengembangan proyek tersebut.

Menurutnya, Danantara tidak dapat mengambil seluruh risiko proyek, tetapi tetap perlu memastikan terdapat pihak yang dapat diandalkan untuk menangani risiko tertentu.

“Diskusi mengenai share of risk atau bagaimana pembagian daripada risiko antara investor dengan pihak Denera dan juga pihak Danantara betul-betul menjadi salah satu hal yang menjadi perhatian kita,” kata Pahala.

Ia menambahkan, skema tersebut merupakan bagian dari strategi Danantara untuk melakukan crowding in, yakni menarik keterlibatan pihak lain dalam pembiayaan dan pengembangan proyek strategis di Indonesia.

Pahala berharap dengan skema de-risking tersebut, risiko proyek WTE dapat ditekan sehingga investor memiliki kepastian yang lebih baik untuk masuk dan ikut mengembangkan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi di Indonesia.

Baca Juga: CEO Danantara Beberkan Strategi Pemerintah Tarik Investasi Transisi Energi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×