kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.615.000   -20.000   -0,76%
  • USD/IDR 18.123   -2,00   -0,01%
  • IDX 6.079   41,16   0,68%
  • KOMPAS100 795   6,60   0,84%
  • LQ45 603   0,15   0,02%
  • ISSI 211   3,81   1,84%
  • IDX30 341   -0,10   -0,03%
  • IDXHIDIV20 422   -0,43   -0,10%
  • IDX80 91   0,59   0,66%
  • IDXV30 115   0,94   0,82%
  • IDXQ30 109   -0,01   -0,01%

BPS: Orang Indonesia makin anti terhadap korupsi


Kamis, 02 Januari 2014 / 14:33 WIB
ILUSTRASI. Aturan kenaikan tarif ojol ini berlaku efektif mulai 14 Agustus 2022 mendatang


Sumber: Kompas.com | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Orang Indonesia semakin bersikap anti korupsi. Hal ini terlihat dari catatan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai indeks perilaku anti korupsi (IPAK) pada 2013 ini meningkat, menjadi 3,63 dari tahun lalu yang hanya di level 3,55.

Kepala BPS Suryamin, di Jakarta, Kamis (2/1), menuturkan ada kenaikan 0,08 poin dibanding tahun lalu. "Jumlah yang tadinya mengatakan boleh, sekarang berubah menjadi tidak boleh (korupsi). Mungkin ini dampak dari banyaknya yang diciduk, makanya mereka takut juga," ujar Suryamin.

IPAK memiliki empat kelas, dari skala 0 hingga 5. Suryamin memaparkan, nilai indeks 0-1,25 menunjukkan orang sangat permisif terhadap korupsi. Sedangkan nilai indeks 1,26-2,50 menunjukkan kategori orang permisif.

"Nilai indeks 2,51-3,75 artinya orang itu anti korupsi. Misalnya, ibu-ibu rumah tangga mulai bertanya, dari mana uang yang dibawa pulang oleh suaminya," kata Suryamin.

Sementara itu, indeks 3,76-5,00 menunjukkan orang sangat anti korupsi. Survei yang dilakukan oleh BPS bersama Bappenas ini juga menunjukkan IPAK baik di urban maupun di rural sama-sama meningkat.

Suryamin mengatakan, IPAK 2013 untuk masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan tercatat di level 3,71, atau naik dari tahun 2012 sebesar 3,66. Sedangkan, untuk masyarakat yang tinggal di perdesaan tercatat 3,55, sedangkan tahun sebelumnya hanya 3,46.

"Yang menarik, ternyata pendidikan berpengaruh cukup kuat pada semangat anti korupsi. Semakin tinggi pendidikan, semakin tinggi IPAK," ujar Suryamin.

Indikator tunggal yang dikumpulkan mencakup pendapat dan pengalaman terhadap kebiasaan di masyarakat berhubungan dengan layanan publik dalam hal perilaku penyuapan (bribery), pemerasan (extortion), dan nepotisme. (Estu Suryowati)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×