kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.000   153,00   0,86%
  • IDX 5.941   -254,36   -4,11%
  • KOMPAS100 785   -38,94   -4,72%
  • LQ45 589   -30,28   -4,89%
  • ISSI 206   -8,52   -3,97%
  • IDX30 334   -15,73   -4,50%
  • IDXHIDIV20 412   -15,89   -3,71%
  • IDX80 89   -4,83   -5,16%
  • IDXV30 113   -4,09   -3,48%
  • IDXQ30 108   -4,46   -3,97%

Defisit Transaksi Berjalan Berisiko Mendekati 2% Jika Surplus Dagang Terus Menipis


Rabu, 03 Juni 2026 / 19:17 WIB
Defisit Transaksi Berjalan Berisiko Mendekati 2% Jika Surplus Dagang Terus Menipis
ILUSTRASI. Neraca perdagangan Januari-April 2026 surplus (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Menipisnya surplus neraca perdagangan Indonesia mulai memunculkan kekhawatiran terhadap ketahanan eksternal perekonomian nasional.

Jika tren pertumbuhan impor yang lebih cepat dibandingkan ekspor, defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) berpotensi melebar hingga mendekati 2% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede, menilai penyusutan surplus perdagangan April 2026 menjadi hanya US$ 89,1 juta merupakan sinyal peringatan yang perlu dicermati.

"Penurunan surplus perdagangan April 2026 menjadi hanya sekitar US$ 89,1 juta sangat berpotensi menggerus prospek defisit transaksi berjalan ke depan, terutama jika pola impor yang tumbuh lebih cepat dari ekspor berlanjut pada bulan-bulan berikutnya," ujar Josua kepada Kontan, Rabu (3/6/2026).

Baca Juga: Ekspor Melambat Diprediksi Menekan Defisit Transaksi Berjalan Indonesia Tahun 2026

Menurut Josua, selama ini transaksi berjalan Indonesia masih sangat bergantung pada surplus perdagangan barang untuk menutupi defisit pada neraca jasa dan neraca pendapatan primer.

Data Bank Indonesia menunjukkan transaksi berjalan pada kuartal I-2026 telah mengalami defisit sekitar US$ 4 miliar atau setara 1,1% PDB. Padahal, pada periode yang sama neraca perdagangan barang masih mencatat surplus sekitar US$ 8 miliar.

Namun surplus tersebut harus menutupi defisit jasa sekitar US$ 4,6 miliar dan defisit pendapatan primer sekitar US$ 9,2 miliar. Kondisi itu membuat bantalan eksternal Indonesia menjadi lebih rentan ketika surplus perdagangan barang mulai menipis.

"Ketika surplus barang menipis, sementara neraca jasa dan neraca pendapatan primer tetap defisit, maka tekanan terhadap transaksi berjalan otomatis meningkat," kata Josua.

Ia menjelaskan, data perdagangan April 2026 sebenarnya menunjukkan ekspor masih tumbuh kuat. BPS mencatat nilai ekspor mencapai US$ 25,30 miliar, sementara impor sebesar US$ 25,21 miliar sehingga hanya menghasilkan surplus yang sangat tipis.

Secara kumulatif Januari-April 2026, ekspor tercatat mencapai US$ 92,15 miliar atau naik 5,48% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ekspor nonmigas bahkan tumbuh 6,28% menjadi US$ 87,74 miliar.

Meski demikian, surplus perdagangan kumulatif Januari-April 2026 turun tajam menjadi US$ 5,64 miliar dari US$ 11,07 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: Surplus Dagang Januari Kian Menipis

"Ini berarti masalahnya bukan ekspor berhenti, melainkan impor, terutama energi, bahan baku, dan barang modal, menyerap devisa lebih cepat daripada tambahan devisa dari ekspor," jelasnya.

Dengan defisit transaksi berjalan yang sudah mencapai 1,1% PDB pada kuartal I-2026, Josua menilai peluang pelebaran CAD menuju batas atas proyeksi Bank Indonesia semakin terbuka.

Bank Indonesia memperkirakan defisit transaksi berjalan tahun 2026 tetap terkendali pada kisaran 0,5% hingga 1,3% PDB. Namun, menurut Josua, proyeksi CAD di kisaran 1,1% PDB kini menjadi semakin realistis.

Bahkan dalam skenario yang lebih berat, defisit transaksi berjalan berpotensi bergerak mendekati 2% PDB.

Skenario tersebut dapat terjadi apabila harga minyak kembali meningkat, impor migas membesar, ekspor komoditas melemah, dan tekanan terhadap rupiah berlanjut.

"Dalam skenario yang lebih berat, jika harga minyak kembali naik, impor migas membesar, ekspor komoditas melemah, dan rupiah tetap tertekan, defisit transaksi berjalan dapat bergerak mendekati 2% PDB," ungkapnya.

Ia menegaskan angka tersebut memang belum mencerminkan kondisi krisis. Namun, pelebaran CAD akan menunjukkan bahwa ketahanan eksternal Indonesia menjadi lebih rapuh dibandingkan awal tahun.

Josua menambahkan tekanan terhadap transaksi berjalan juga berasal dari defisit struktural pada neraca jasa dan neraca pendapatan primer. Defisit jasa masih dipengaruhi tingginya biaya transportasi, asuransi, jasa bisnis, telekomunikasi, dan berbagai layanan lainnya.

Sementara itu, defisit pendapatan primer berasal dari pembayaran bunga utang, kupon surat berharga negara (SBN), dividen, serta imbal hasil investasi asing yang mengalir ke luar negeri.

Baca Juga: Defisit APBN 2026 Risiko Bengkak Akibat Harga Minyak, Ini Saran Solusi Pemerintah

Karena itu, menurutnya, Indonesia membutuhkan surplus perdagangan barang yang cukup besar untuk menjaga keseimbangan transaksi berjalan.

"Jika surplus perdagangan hanya tipis, maka defisit jasa dan pendapatan primer akan langsung mendorong defisit transaksi berjalan melebar. Dengan kata lain, surplus perdagangan US$ 89,1 juta secara statistik masih positif, tetapi secara ekonomi hampir tidak cukup untuk menjadi bantalan neraca eksternal," ujarnya.

Dari sisi pasar keuangan, Josua menilai penyempitan surplus perdagangan berpotensi memperburuk sentimen terhadap rupiah. Investor dapat menilai pasokan devisa dari ekspor tidak lagi sekuat sebelumnya, terutama ketika terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak dunia.

"Ketika surplus dagang menyempit bersamaan dengan harga minyak tinggi, investor akan lebih berhati-hati terhadap rupiah, SBN, dan IHSG," katanya.

Untuk mengurangi risiko pelebaran CAD, Josua menyarankan pemerintah memperkuat pasokan devisa melalui percepatan implementasi devisa hasil ekspor (DHE), memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional, memperkuat ekspor manufaktur dan jasa, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.

Meski demikian, ia mengingatkan agar kebijakan pengendalian impor dilakukan secara selektif sehingga tidak menghambat masuknya bahan baku dan barang modal yang dibutuhkan industri.

"Pembatasan impor yang terlalu kasar justru dapat menekan produksi dan ekspor beberapa bulan kemudian," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×