kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

Biaya hidup tinggi, daya beli petani menurun


Senin, 01 Desember 2014 / 14:23 WIB
ILUSTRASI. PT NFC Indonesia Tbk (NFCX).


Reporter: Uji Agung Santosa | Editor: Uji Agung Santosa

JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya penurunan nilai tukar petani (NTP) nasional pada November 2014 sebesar 102,37. Dengan indeks itu maka NTP November 2014 turun 0,49% dibanding bulan sebelumnya.

Penurunan NTP dikarenakan indeks harga yang diterima petani naik 0,81%, lebih rendah dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 1,30%.  Dari seluruh provinsi di Indonesia, NTP Provinsi Kepulauan Riau mengalami penurunan terbesar (2,02%). Sedangkan NTP Provinsi Maluku Utara mengalami kenaikan tertinggi (0,24%).

Dalam siaran resmi BPS, Senin (1/12), pada November 2014 juga terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 1,49% disebabkan oleh naiknya indeks seluruh kelompok konsumsi.

NTP merupakan indeks perbandingan harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib). Indeks ini menjadi salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan.  NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.  Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani.

Penurunan NTP November 2014 disebabkan oleh turunnya NTP subsektor hortikultura sebesar 0,17%, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,86%, subsektor
peternakan sebesar 1,35%, dan subsektor perikanan sebesar 1,49%. Sedangkan subsektor yang mengalami kenaikan adalah subsektor tanaman pangan sebesar 0,39%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×