kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

BI pangkas suku bunga, ekonom BCA: Saat ini yang penting efektivitas kebijakan fiskal


Kamis, 18 Juni 2020 / 21:44 WIB
ILUSTRASI. asil RDG —— Logo Bank Indonesia (BI) di gedung BI di Jakarta, Kamis (19/7). RDG memutuskan mempertahankan BI seven day reverse repo rate sebesar 5,25%, suku bunga deposit facility tetap 4,50% dan suku bunga lending facility tetap di 6,00%. KONTAN/Cheppy A


Reporter: Bidara Pink | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) sudah kembali menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke level 4,25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di bulan Juni 2020 ini. 

Meski sudah kembali melakukan pelonggaran moneter, Ekonom BCA David Sumual menilai kalau racikan kebijakan moneter belum terlalu terasa untuk menggenjot perekonomian. Menurutnya, saat ini yang lebih dibutuhkan adalah peran kebijakan fiskal. 

Baca Juga: BI yakin rupiah ada di kisaran Rp 14.000-Rp 14.600 per dolar AS pada akhir tahun ini

"Kalau kondisi sekarang yang penting efektivitas kebijakan fiskal dulu. Karena moneter itu kondisinya agak susah. Selesai Covid-19 baru akan efektif. Permintaan kredit relatif lemah, minat investasi lemah. Jadi, perkuat fiskal dengan percepatan stimulus," kata David kepada Kontan.co.id, Kamis (18/6). 

Penguatan gelontoran fiskal dirasa lebih efektif karena kebijakan ini bisa langsung menyentuh sektor riil. Selain itu, ini juga berarti akan menggendutkan konsumsi pemerintah sehingga berpotensi untuk mengokohkan pertumbuhan ekonomi di masa pandemi. 

Pasalnya, David pesimistis kalau konsumsi rumah tangga yang biasanya menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi, bisa tumbuh positif. Mengingat, perekonomian masyarakat banyak yang terdampak pandemi tersebut. 

Baca Juga: Sri Mulyani prediksi konsumsi rumah tangga di kuartal II tak akan bertumbuh

"Makanya, andalan saat ini adalah konsumsi pemerintah. Diharapkan dengan penyaluran stimulus ke masyarakat, konsumsi rumah tangga bisa naik double digit pertumbuhannya. Kurang lebih 9% - 12%. Karena, kalau yang lain kemungkinan minus," terang David. 




TERBARU

[X]
×