kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.713.000   -20.000   -0,73%
  • USD/IDR 17.959   -71,00   -0,39%
  • IDX 5.902   155,73   2,71%
  • KOMPAS100 783   23,11   3,04%
  • LQ45 589   20,16   3,54%
  • ISSI 202   4,81   2,44%
  • IDX30 335   12,48   3,87%
  • IDXHIDIV20 413   15,31   3,84%
  • IDX80 88   2,33   2,70%
  • IDXV30 111   2,33   2,15%
  • IDXQ30 108   3,73   3,59%

BI Isyaratkan Kerek Suku Bunga Lagi & Membiarkan Imbal Hasil Obligasi Naik


Rabu, 10 Juni 2026 / 16:50 WIB
BI Isyaratkan Kerek Suku Bunga Lagi & Membiarkan Imbal Hasil Obligasi Naik
ILUSTRASI. Gubenur Bank Indonesia Perry Warjiyo (KONTAN/Siti Masitoh)


Sumber: Bloomberg | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengisyaratkan bahwa bank sentral akan membiarkan imbal hasil obligasi pemerintah meningkat dan membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan, dalam upaya menstabilkan nilai tukar rupiah dan menarik kembali arus modal asing ke ekonomi terbesar di Asia Tenggara tersebut.

Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi telepon selama sekitar 90 menit pada Selasa malam waktu Jakarta, yang dihadiri lebih dari 200 investor dari Amerika Serikat dan Eropa, serta dilanjutkan dengan sesi terpisah untuk investor Asia pada Rabu dengan lebih dari 180 peserta.

Dalam pertemuan tersebut, Warjiyo menegaskan bahwa fokus utama kebijakan moneter saat ini adalah menjaga stabilitas rupiah, bahkan jika hal tersebut berarti kenaikan biaya pembiayaan pemerintah. Bank sentral, menurut para peserta yang mengikuti panggilan tertutup itu, secara tegas mengarahkan kebijakan agar imbal hasil obligasi dapat bergerak lebih tinggi sebagai bagian dari penyesuaian pasar.

Baca Juga: Harga Pertamax Naik, Anggaran Negara Hemat Rp 11,4 Triliun Tapi Ada Risiko Migrasi

Ia juga menyampaikan bahwa Bank Indonesia tidak akan membeli obligasi bertenor 10 tahun atau lebih, serta akan membuka kembali fasilitas repurchase untuk menyerap likuiditas perbankan. Di sisi lain, biaya lindung nilai (hedging cost) bagi investor asing akan diturunkan untuk mendorong masuknya arus modal.

Langkah tersebut merupakan bagian dari kebijakan yang lebih terkoordinasi, setelah bank sentral menaikkan suku bunga dalam beberapa waktu terakhir di tengah tekanan pada rupiah yang sempat menyentuh rekor terlemah. Kenaikan terbaru membuat total pengetatan mencapai 75 basis poin dalam tiga pekan terakhir.

Bank Indonesia sebelumnya juga menyampaikan sinyal serupa dalam pernyataan resmi dan dalam konferensi pers bersama Kementerian Keuangan pada akhir pekan lalu, dengan tujuan meredam aksi jual di pasar.

Warjiyo sendiri membenarkan adanya pertemuan dengan investor tersebut dan menyebutnya sebagai upaya menjelaskan keputusan kenaikan suku bunga tak terduga pekan ini serta memperkuat kepercayaan pasar. Ia menegaskan bahwa prospek ekonomi Indonesia tetap positif dan Bank Indonesia akan menggunakan seluruh instrumen kebijakan yang tersedia, termasuk koordinasi erat dengan kebijakan fiskal.

Pasar merespons dengan relatif positif. Rupiah menguat untuk hari kedua dan kembali bergerak di bawah level psikologis 18.000 per dolar AS, sementara indeks saham acuan naik 2,6 persen yang didorong penguatan saham perbankan. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun juga tercatat menurun.

Baca Juga: Bapanas Ajukan Anggaran Rp 17,84 Triliun, Pagu Indikatif Rp 110 Miliar Masih Kurang

Sejumlah analis menilai langkah Bank Indonesia bertujuan memperlebar selisih imbal hasil dan menurunkan biaya transaksi guna menarik kembali aliran dana asing. Namun, sebagian investor tetap berhati-hati di tengah kekhawatiran terhadap arah kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto serta risiko pelebaran defisit anggaran.

Pelaku pasar juga menantikan hasil tinjauan MSCI terkait tingkat kelayakan investasi pasar saham Indonesia serta evaluasi terbaru dari S&P terhadap peringkat kredit negara, yang dapat menjadi faktor tambahan bagi arah arus modal ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×