kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

BI ingin pastikan dampak BBM hanya sebentar


Kamis, 20 November 2014 / 22:43 WIB
ILUSTRASI. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menyetujui pembayaran dividen US$ 30 sehingga total menjadi US$ 100 juta setelah ditambah dividen interim Januari 2023.


Reporter: Margareta Engge Kharismawati | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp 2.000 per liter sejak Selasa (18/11). Kenaikan harga ini tentu akan memicu lonjakan inflasi. Bank Indonesia (BI) pun lantas menaikkan suku bunga acuan (BI rate) ke level 7,75%.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan menaikkan BI rate tersebut sebagai langkah pencegahan untuk memitigasi dampak lanjutan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada tekanan inflasi ke depan.

"Kami ingin memastikan bahwa tekanan inflasi akibat kenaikan harga BBM hanya bersifat sementara," ujar Agus dalam Sambutan Akhir Tahun Gubernur BI dan Pertemuan Tahunan Perbankan 2014 yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta, Kamis (20/11).

BI ingin laju inflasi serta ekspektasinya ke depan tetap berjangkar pada kisaran sasaran 4% plus minus 1%. Dengan inflasi yang terjaga, BI yakin tabungan riil dan daya beli masyarakat tidak akan tergerus. "Sehingga menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi dan laju pengentasan kemiskinan yang lebih kuat ke depan," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×