kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.765.000   -24.000   -0,86%
  • USD/IDR 17.676   -60,00   -0,34%
  • IDX 6.331   -40,10   -0,63%
  • KOMPAS100 835   -8,62   -1,02%
  • LQ45 633   -1,83   -0,29%
  • ISSI 226   -2,51   -1,10%
  • IDX30 362   0,02   0,00%
  • IDXHIDIV20 450   3,04   0,68%
  • IDX80 96   -0,77   -0,79%
  • IDXV30 124   -0,57   -0,45%
  • IDXQ30 118   0,94   0,80%

BI Guyur Insentif Likuiditas Makroprudensial Rp 424,7 Triliun hingga Awal Mei 2026


Rabu, 20 Mei 2026 / 15:15 WIB
BI Guyur Insentif Likuiditas Makroprudensial Rp 424,7 Triliun hingga Awal Mei 2026
ILUSTRASI. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo - RDG BI (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) terus memperkuat kebijakan makroprudensial guna mendorong penyaluran kredit perbankan ke sektor-sektor prioritas. Hingga minggu pertama Mei 2026, realisasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) tercatat mencapai Rp 424,7 triliun.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, insentif tersebut disalurkan melalui dua jalur utama, yakni lending channel sebesar Rp 361 triliun dan interest rate channel sebesar Rp 63,7 triliun.

“Ke depan, KLM akan terus diperkuat dengan memberikan insentif bagi bank yang meningkatkan pembiayaan dan pendanaan, termasuk non-kredit dan non-DPK,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (20/5).

Baca Juga: Menkeu Purbaya Janji Tak Ada Kenaikan Tarif dan Pajak Baru pada Tahun 2027

Berdasarkan kelompok bank, penyaluran insentif KLM terbesar diterima bank-bank BUMN sebesar Rp 214,2 triliun. Selanjutnya disalurkan kepada bank umum swasta nasional (BUSN) sebesar Rp 171,1 triliun, bank pembangunan daerah (BPD) Rp 30,6 triliun, dan kantor cabang bank asing (KCBA) Rp 8,2 triliun.

Adapun secara sektoral, insentif KLM telah diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor prioritas, mulai dari pertanian, industri dan hilirisasi, jasa termasuk ekonomi kreatif, hingga sektor konstruksi, real estate dan perumahan.

Selain itu, kebijakan tersebut juga menopang pembiayaan sektor UMKM, koperasi, inklusi keuangan, serta pembiayaan berkelanjutan.

Perry menegaskan, BI akan terus mengoptimalkan kebijakan makroprudensial longgar untuk menjaga momentum pertumbuhan kredit di tengah ketidakpastian global dan tekanan di pasar keuangan.

Tak hanya itu, BI juga akan memberikan tambahan insentif bagi bank yang menetapkan suku bunga kredit sejalan dengan arah kebijakan moneter Bank Indonesia.

“Langkah ini ditempuh untuk menjaga agar fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan dan mendukung pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Baca Juga: Tinjau Sektor 10 Makkah, Wamenhaj Cek Langsung Kelaikan Akomodasi Jemaah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×