kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.733.000   4.000   0,15%
  • USD/IDR 17.789   55,00   0,31%
  • IDX 6.221   -34,23   -0,55%
  • KOMPAS100 825   -6,05   -0,73%
  • LQ45 625   0,55   0,09%
  • ISSI 212   -0,83   -0,39%
  • IDX30 355   0,75   0,21%
  • IDXHIDIV20 436   1,25   0,29%
  • IDX80 94   -0,15   -0,16%
  • IDXV30 116   -0,32   -0,28%
  • IDXQ30 114   0,59   0,52%

BI Diproyeksi Tahan Suku Bunga di Level 5,50%, Ini Kata LPEM FEB UI


Rabu, 17 Juni 2026 / 16:23 WIB
BI Diproyeksi Tahan Suku Bunga di Level 5,50%, Ini Kata LPEM FEB UI
ILUSTRASI. Bank Indonesia akan umumkan suku bunga acuan. LPEM FEB UI memprediksi BI Rate 5,50% dipertahankan.


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. LPEM FEB UI memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,50% dalam hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan pada 18 Juni 2026.

Menurut LPEM UI, keputusan untuk menahan suku bunga diperlukan setelah bank sentral melakukan pengetatan moneter yang cukup agresif sejak Mei 2026, total kenaikan sebesar 75 basis poin. Langkah tersebut dinilai sudah memadai untuk meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah sekaligus menjaga ekspektasi inflasi.

"Dengan mempertimbangkan pengetatan kebijakan yang telah berlangsung secara bertahap sejak Mei, intervensi valuta asing yang terus berlanjut, serta kebutuhan untuk mengevaluasi dampak dari langkah-langkah yang baru-baru ini diambil, kami berpandangan bahwa Bank Indonesia perlu mempertahankan suku bunga kebijakannya pada level 5,50% dalam Rapat Dewan Gubernur yang akan datang," tulis Jahen Fachrul Rezki, Wakil Direktur LPEM FEB UI dalam laporannya, Rabu (17/6/2026).

Baca Juga: Prabowo Gelar Rapat di Hambalang, Bahas Evaluasi Haji dan Kerjasama Mineral Kritis

Inflasi tahunan pada Mei 2026 meningkat menjadi 3,08% dari 2,42% pada April 2026. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh melonjaknya harga pangan akibat berakhirnya musim panen raya, gangguan cuaca, serta meningkatnya permintaan menjelang Iduladha.

Selain itu, tekanan inflasi juga datang dari kelompok energi setelah adanya penyesuaian harga bahan bakar nonsubsidi dan liquefied petroleum gas (LPG) rumah tangga.

Meski demikian, inflasi masih berada dalam rentang target BI sebesar 1,5%-3,5%. Karena sumber tekanan inflasi lebih banyak berasal dari sisi pasokan dan harga yang diatur pemerintah, LPEM UI menilai efektivitas kenaikan suku bunga tambahan untuk meredam inflasi dalam jangka pendek relatif terbatas.

Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah masih menjadi perhatian utama. Rupiah sempat menyentuh level terendah di atas Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni, mendorong BI menaikkan suku bunga secara tidak terjadwal sebesar 25 basis poin pada 9 Juni 2026. Kenaikan tersebut merupakan yang pertama di luar jadwal RDG sejak 2018.

LPEM UI menilai langkah BI tersebut tepat untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap sejumlah risiko domestik.

Dalam analisisnya, LPEM UI menyoroti bahwa gejolak pasar keuangan belakangan lebih banyak dipicu faktor domestik dibandingkan eksternal. Salah satunya adalah pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang memunculkan kekhawatiran pelaku pasar mengenai meningkatnya intervensi negara dalam kegiatan ekspor komoditas.

Kondisi tersebut tercermin dari berlanjutnya arus keluar modal asing, terutama di pasar saham. Antara 20 Mei hingga 11 Juni 2026, pasar saham mencatat arus keluar sebesar US$1,5 miliar, sementara pasar obligasi hanya membukukan arus masuk tipis sebesar US$0,02 miliar.

Selain itu, cadangan devisa Indonesia juga terus tergerus. Hingga Mei 2026, posisi cadangan devisa turun US$ 1,3 miliar dibandingkan April dan telah menyusut sekitar US$ 11,6 miliar sejak awal tahun akibat intervensi BI di pasar valas.

Baca Juga: Jelang Penerapan Pajak Marketplace di Juli 2026, idEA Minta Kejelasan Teknis

Meski demikian, LPEM UI menilai kondisi cadangan devisa masih berada pada level aman karena setara dengan 5,6 bulan impor.

Ke depan, lembaga tersebut memperkirakan ruang untuk pemangkasan suku bunga masih terbuka apabila aktivitas ekonomi menunjukkan perlambatan. Namun, peluang tersebut akan sangat bergantung pada perkembangan nilai tukar rupiah.

"Inflasi tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia sehingga mengurangi urgensi untuk kenaikan suku bunga tambahan. Namun ruang untuk pemangkasan suku bunga kemungkinan akan tetap terbatas selama rupiah masih mengalami tekanan," tulis Jahen.

Dengan kondisi inflasi yang masih terkendali, dampak pengetatan moneter yang belum sepenuhnya terserap, serta tekanan rupiah yang mulai mereda pasca kenaikan suku bunga darurat, LPEM UI memperkirakan BI akan memilih sikap wait and see dengan mempertahankan BI Rate di level 5,50% pada RDG Juni 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×