Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan global yang kembali meningkat membuat ruang gerak pelonggaran moneter kian sempit.
LPEM FEB UI memprediksi Bank Indonesia (BI) akan menahan suku bunga acuan di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026, meski inflasi domestik mulai melandai.
Wakil Direktur LPEM FEB UI Jahen Fachrul Rezki menegaskan, langkah ini diperlukan untuk menjaga stabilitas eksternal di tengah meningkatnya risiko global.
"Bank Indonesia perlu mempertahankan BI Rate di 4,75% dengan memprioritaskan stabilitas eksternal," ujarnya dalam ketearngannya, Rabu (22/4/2026).
Baca Juga: Sejumlah Ekonom Prediksi BI Tetap Tahan Suku Bunga, Ini Pertimbangannya
Tekanan tersebut terutama datang dari eskalasi konflik AS–Iran yang memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan risiko inflasi impor.
Dampaknya mulai terasa di pasar domestik, tercermin dari arus keluar modal bersih sebesar US$ 1,47 miliar, pelemahan rupiah 0,88% secara bulanan, serta penurunan cadangan devisa menjadi US$148,2 miliar.
Di sisi lain, inflasi dalam negeri memang menunjukkan tren penurunan. Inflasi tahunan Maret 2026 tercatat 3,48% (yoy), turun dari 4,76% (yoy) pada Februari dan mendekati batas atas target BI.
Perlambatan ini seiring memudarnya efek basis rendah dari diskon tarif listrik tahun lalu.
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga masih menjadi penyumbang utama inflasi, meski tekanannya mulai mereda.
Baca Juga: BI Diproyeksi Tahan Suku Bunga, Cermati Rekomendasi BBCA, BBRI, BMRI dan BBNI
Inflasi sektor ini turun signifikan menjadi 7,24% (yoy) dari 16,19% (yoy) pada bulan sebelumnya. Tarif listrik tetap menjadi kontributor terbesar, meski dampaknya kian berkurang.
Sementara itu, inflasi dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga melambat, meski masih tinggi akibat kenaikan harga emas. Lonjakan harga emas dipicu tingginya permintaan global di tengah ketidakpastian geopolitik.
Secara bulanan, inflasi Maret tercatat 0,41%, lebih rendah dari Februari sebesar 0,68%.
Tekanan terutama berasal dari harga pangan seperti ikan dan ayam, yang dipengaruhi gangguan pasokan serta tingginya permintaan selama Lebaran. Sebaliknya, harga emas justru turun secara bulanan, menahan laju inflasi.
Baca Juga: BI Diproyeksi Tahan Suku Bunga pada RDG April 2026, Ruang Penurunan Masih Terbuka
Dari komponen pembentuknya, inflasi inti turun menjadi 2,52% (yoy), menandakan tekanan permintaan relatif terkendali. Inflasi harga yang diatur pemerintah secara tahunan menurun, namun naik secara bulanan akibat kenaikan harga BBM nonsubsidi dan tarif transportasi. Sementara inflasi barang bergejolak juga melambat, meski masih dipengaruhi harga pangan.













