Reporter: Siti Masitoh | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026. Meski risiko global masih meningkat, kondisi domestik dinilai mulai menunjukkan perbaikan sehingga belum ada urgensi bagi bank sentral untuk kembali memperketat kebijakan moneter.
Head of Macroeconomic and Financial Market Research Bank Permata Faisal Rachman, mengatakan keputusan BI untuk menaikkan maupun menahan suku bunga tetap akan sangat bergantung pada perkembangan kondisi global dan domestik.
Menurutnya, dari sisi eksternal, tekanan global masih meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini dipicu memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang mendorong kenaikan harga minyak dunia sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi energi global.
Baca Juga: Efek Inflasi, BI-Rate Diramal Akan Dinaikkan Menjadi 6,00% Pada Juli 2026
Di sisi lain, data inflasi AS yang dirilis terbaru tercatat lebih rendah dari ekspektasi pasar. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar menurunkan ekspektasi terhadap laju kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang lebih cepat dan agresif.
"Secara keseluruhan, risiko global pada Juli 2026 masih lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi pada Juni 2026," ujar Faisal.
Sementara itu, dari sisi domestik, ia melihat sejumlah faktor pendukung mulai menguat. Salah satunya adalah keputusan S&P yang mempertahankan peringkat utang (sovereign credit rating) Indonesia pada level investment grade dengan outlook stabil. Keputusan tersebut dinilai meningkatkan kepercayaan investor sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing.
Selain itu, kinerja fiskal pemerintah pada semester I-2026 juga masih menunjukkan defisit yang terkendali, meskipun prospek ke depan tetap dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak dunia dan pergerakan nilai tukar rupiah.
Faisal juga menyoroti penguatan rupiah yang kembali bergerak di bawah level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat pada akhir pekan. Menurutnya, kondisi tersebut turut mengurangi risiko imported inflation.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, ia memproyeksikan BI akan mempertahankan BI-Rate di level 5,75% hingga akhir 2026.
"Dalam skenario baseline, kami masih memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI-rate di level 5,75% hingga akhir 2026. Namun demikian, kami tetap membuka kemungkinan adanya pengetatan moneter lanjutan apabila kondisi global maupun domestik memburuk lebih jauh," jelasnya.
Faisal menilai kenaikan kumulatif BI-Rate sebesar 100 basis poin (bps) sepanjang Mei dan Juni 2026 pada dasarnya sudah mencerminkan langkah antisipatif BI terhadap potensi kenaikan Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25 bps pada akhir tahun.
Baca Juga: Ini Daftar Data Rekening yang Bisa Diminta Ditjen Pajak dari Bank
Dengan demikian, menurutnya, BI saat ini masih berada dalam posisi ahead of the curve atau selangkah lebih maju, sehingga ruang untuk kembali menaikkan suku bunga menjadi semakin terbatas apabila ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed berjalan sesuai perkiraan.
Ia menjelaskan, berdasarkan CME Fed Watch terbaru, pelaku pasar memberikan probabilitas tinggi bahwa The Fed akan menaikkan FFR sebesar 25 bps pada Oktober 2026 sehingga suku bunga kebijakan mencapai 4,00%.
"Apabila ekspektasi tersebut terealisasi tanpa disertai peningkatan risiko global lebih lanjut, maka ruang bagi BI untuk kembali menaikkan BI-rate akan semakin terbatas," katanya.
Lebih lanjut, Faisal menilai siklus pengetatan moneter yang telah dilakukan BI sejauh ini secara umum sudah cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Menurutnya, kenaikan kumulatif BI-Rate telah berhasil mengimbangi peningkatan risk premium Indonesia sekaligus menjaga daya tarik aset keuangan domestik, khususnya Surat Berharga Negara (SBN).
Meski demikian, ia mengingatkan masih terdapat sejumlah faktor yang membuat investor cenderung mengambil sikap risk-off. Di antaranya adalah proses peninjauan klasifikasi MSCI yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026 serta masih adanya ketidakpastian mengenai arah kebijakan ekonomi pemerintah.
Di sisi lain, Faisal juga menilai risiko terjadinya overtightening atau pengetatan likuiditas yang berlebihan masih relatif terbatas.
Ia menjelaskan, meskipun kebijakan moneter kini lebih restriktif, bauran kebijakan makroprudensial BI masih bersifat akomodatif dan kebijakan fiskal pemerintah tetap ekspansif. Kondisi tersebut membuat likuiditas rupiah secara umum masih memadai.
Menurutnya, tantangan yang lebih besar justru berada pada likuiditas valuta asing. Walaupun kenaikan suku bunga kebijakan telah memperkuat ketahanan eksternal Indonesia, ketidakpastian global yang masih tinggi terus membatasi aliran masuk modal asing hingga taraf tertentu.
“Sehingga perbaikan likuiditas valuta asing belum berlangsung secara optimal," pungkasnya.
Senada, Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro juga memperkirakan BI-Rate akan ditahan pada RDG bulan ini.
“BI-Rate akan stay ya (di level 5,75%),” kata Andry.
Menurutnya, stabilnya nilai tukar rupiah, inflasi yang tetap terkendali, serta kondisi fiskal yang relatif terjaga menjadi faktor yang mendukung Bank Indonesia untuk tidak kembali menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.
Meski demikian, Andry menambahkan, apabila diperlukan pengetatan lanjutan, ia memperkirakan ruang kenaikan BI-Rate hingga akhir tahun 2026 hanya sekitar 25 bps.
Baca Juga: Ini Daftar Data Rekening yang Bisa Diminta Ditjen Pajak dari Bank
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
