CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -4.000   -0,15%
  • USD/IDR 17.962   17,00   0,09%
  • IDX 6.232   56,24   0,91%
  • KOMPAS100 823   8,72   1,07%
  • LQ45 628   5,84   0,94%
  • ISSI 214   2,70   1,27%
  • IDX30 354   2,95   0,84%
  • IDXHIDIV20 440   1,97   0,45%
  • IDX80 94   1,10   1,18%
  • IDXV30 118   0,63   0,54%
  • IDXQ30 114   0,48   0,43%

BI Diperkirakan Bakal Menaikkan Suku Bunga, Ini Alasannya


Senin, 20 Juli 2026 / 10:49 WIB
BI Diperkirakan Bakal Menaikkan Suku Bunga, Ini Alasannya
ILUSTRASI. Gedung Bank Indonesia (BI) di Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Mirae Asset Sekuritas memprediksi Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga pada rapat dewan gubernur (RDG) BI pada 21 – 22 Juli 2026. Proyeksi kenaikan tersebut karena BI bermaksud untuk menstabilkan nilai tukar.   

Analis Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto menilai tingkat suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama menjadi kenyataan, dengan imbal hasil obligasi 10 tahun belum sepenuhnya disesuaikan. Menurutnya, kombinasi kebijakan telah bergeser secara tegas ke arah yang disebut kebijakan moneter ketat dan kurva terarah. 

“BI menaikkan suku bunga sebesar 100 bps selama Mei dan Juni dan kami memperkirakan satu langkah lagi ke 6,0% untuk menstabilkan nilai tukar, sebuah pembalikan tajam dari skenario dasar awal tahun kami yang memperkirakan tidak ada pemotongan suku bunga,” ujar Rully dalam risetnya pada Senin (20/7/2026). 

Baca Juga: Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak, Ditjen Pajak Kini Bisa Intip Rekening Keluarga

Rully melihat imbal hasil SRBI telah disesuaikan sekitar 270 bps sejak Februari sementara imbal hasil obligasi SBN 10 tahun hanya bergerak sekitar 80 bps. Ini tertahan oleh pembelian BI hampir sebesar Rp 400 triliun pada semester pertama tahun 2026 yang kini membuat bank sentral memiliki 30,1% dari obligasi SBN yang beredar. 

Seiring dengan normalisasi intensitas pembelian, Mirae Asset Sekuritas melihat imbal hasil obligasi 10 tahun akan bergerak menuju 7,5%. Tingkat bebas risiko yang lebih tinggi ini bersamaan dengan proyeksi pemotongan pertumbuhan PDB menjadi 4,8% untuk tahun 2026. 

Selain itu, Rully menilai IHSG yang telah terkoreksi 28,6% secara year to date (ytd) dan telah menurun 41,5% dari posisi puncaknya mencerminkan gabungan dari risiko ekor reklasifikasi MSCI Frontier, tindakan prospek negatif dari Moody's dan Fitch, dan ketidakpastian kebijakan di seluruh program makanan bergizi gratis, program koperasi desa, dan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). 

Rully mengatakan, setiap lapisan skenario bearish tersebut telah menipis. MSCI mempertahankan Indonesia dalam indeks emerging market (EM), menunda daripada menutup pertanyaan Frontier hingga tinjauan November. S&P menegaskan prospek stabilnya, pelaksanaan fiskal semester pertama 2026 mempertahankan defisit pada 0,76% dari PDB, dan pengeluaran program unggulan sedang dirasionalisasi sementara mandat DSI terbukti lebih sempit daripada yang dikhawatirkan. 

“Kami menurunkan target akhir tahun skenario dasar IHSG kami menjadi 6.800, karena pertumbuhan yang lebih lambat dan suku bunga bebas risiko yang lebih tinggi,” ucap Rully.  

Mirae Asset Sekuritas memperkirakan pemulihan bertahap dan selektif yang didorong oleh peningkatan kepastian fiskal dan kebijakan, serta rupiah yang stabil meskipun masih pada level lemah di semester kedua tahun 2026. Arus masuk asing diperkirakan tetap moderat hingga tinjauan MSCI bulan November menghilangkan pertanyaan biner tersebut.

Baca Juga: Efek Inflasi, BI-Rate Diramal Akan Dinaikkan Menjadi 6,00% Pada Juli 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×