Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Likuiditas perekonomian pada awal 2026 diperkirakan masih berada pada level yang relatif sehat, meskipun secara musiman pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) berpotensi sedikit melandai setelah mencapai puncaknya pada akhir tahun 2025.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai perlambatan tersebut merupakan pola musiman yang lazim terjadi di awal tahun.
Namun, arah pergerakan M2 ke depan akan sangat ditentukan oleh kinerja penyaluran kredit perbankan serta kekuatan eksekusi belanja pemerintah.
Baca Juga: Tanpa Momentum Musiman, Ekonom Nilai Pertumbuhan Ekonomi 5% Sulit Diraih Semester II
“Jika perbankan semakin agresif menyalurkan kredit dan dunia usaha merespons dengan ekspansi, maka perputaran uang akan semakin cepat. Pada saat yang sama, belanja pemerintah yang dieksekusi lebih awal dan tepat sasaran akan menjadi penopang likuiditas,” ujar Yusuf kepada Kontan, dikutip Minggu (25/1/2026).
Ia menambahkan, momentum Ramadan dan Lebaran yang jatuh lebih awal pada 2026 berpotensi menjaga konsumsi masyarakat.
Dengan demikian, sepanjang 2026 pertumbuhan M2 dinilai masih memiliki ruang untuk bertahan di level tinggi, dengan tetap memperhatikan kualitas pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makro.
Yusuf juga menyoroti kondisi likuiditas pada akhir tahun 2025 yang menunjukkan perbaikan signifikan.
Dorongan stimulus ekonomi pada kuartal IV 2025 tercermin pada pertumbuhan M2 yang mencapai 9,6% secara tahunan (year on year/yoy) pada Desember 2025, meningkat dibandingkan November 2025 sebesar 8,3% yoy dan Oktober 2025 sebesar 7,7% yoy.
Baca Juga: Anomali! Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2025 Kalahkan Momentum Ramadan dan Lebaran
“Peningkatan M2 tersebut menandakan likuiditas perekonomian membaik seiring menguatnya aktivitas ekonomi,” jelasnya.
Dari sisi komponen penguatan likuiditas terlihat dari pertumbuhan uang beredar sempit (M1), yang mencapai sekitar 14%, mencerminkan aktivitas transaksi masyarakat dan dunia usaha yang semakin aktif.
Dari sisi fiskal, belanja pemerintah di akhir tahun turut mengalirkan dana ke perekonomian, tercermin dari tagihan bersih kepada pemerintah pusat yang tumbuh dua digit.
Sementara itu, kredit perbankan yang tumbuh sekitar 9,3% yoy menunjukkan mulai pulihnya kepercayaan, meskipun Yusuf menilai dorongan kredit ke depan masih sangat bergantung pada permintaan dari sektor riil.
Selanjutnya: Peluang Umrah Lebih Hemat: BSI Hadirkan Berbagai Promo di GUTF 2026.
Menarik Dibaca: 5 Manfaat Rutin Minum Kopi Setiap Hari untuk Kesehatan Tubuh
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













