kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Bea masuk 57 komoditi dihapus, target penerimaan bea cukai masih aman


Jumat, 28 Januari 2011 / 23:29 WIB


Reporter: Bambang Rakhmanto | Editor: Edy Can

JAKARTA. Pembebasan bea masuk 57 komoditi pangan bikin negara berpotensi kehilangan pendapatan Rp 1,1 triliun hingga Rp 1,2 triliun. Tetapi, pemerintah menilai kebijakan tersebut tidak akan menganggu target penerimaan bea dan cukai.

Direktur Teknik Kepabeanan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Heri Kristiono mengatakan, pembebasan bea masuk bagi 57 komoditi itu hanya sebagian kecil dari total pos tarif. Dia mengatakan saat ini ada 8.715 pos tarif.

Menurut Heri, penerimaan bea masuk itu dasarnya bukan hanya pos tarif. Sebab, pos tarif itu hanya salah satu dari subset untuk mencapai penerimaan bea masuk. “Seperti kita ketahui, secara rata-rata biasanya volume perdagangan internasional saban tahun naik sekitar 20-30 % dan itu tentunya sudah bisa membuat Bea dan Cukai mencapai target. Kalau ini tidak dirubah tentunya target bea cukai akan bertambah lagi,” katanya, Jumat (28/1).

Menjaga daya beli

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Bambang Brojonegoro menyatakan, penghapusan bea masuk bukan sekedar masalah penerimaan negara saja. Menurutnya, pembebasan bea masuk itu juga bertujuan menstimulasi perekonomian.

Sebab, dia mengatakan penghapusan bea masuk ini akan berdampak pada daya beli masyarakat. "Bahkan mungkin bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi maka kompensasinya adalah akan ada industri atau aktivitas ekonomi lain yang terus meninggi,” ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×