Reporter: Hervin Jumar | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah kembali mengintervensi harga jagung pakan untuk menjaga keberlangsungan usaha peternak unggas, khususnya peternak skala mikro yang rentan terhadap kenaikan biaya produksi.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengusulkan penambahan kuota program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan sebanyak 150.000 ton. Usulan tersebut akan dibahas dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) di Kementerian Koordinator Bidang Pangan.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan tambahan kuota tersebut diperlukan untuk membantu peternak menghadapi kenaikan harga pakan, Day Old Chicks (DOC), dan komponen produksi lainnya.
Baca Juga: Banggar DPR Desak Menkeu Segera Lapor Profil Utang Pemerintah
"Beberapa waktu yang lalu Bapak Kepala Bapanas sudah mengundang seluruh asosiasi peternakan telur di Surabaya untuk memastikan bahwa pemerintah akan melakukan intervensi. Pada kesempatan tersebut sudah disepakati bahwa untuk mengendalikan harga, unlock-nya harga telur di tingkat produsen ini, Bapak Kepala Bapanas sudah memutuskan untuk menambah SPHP jagung sebanyak 150 ribu ton," kata Ketut dalam keterangannya, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, tambahan pasokan jagung diharapkan dapat menjaga harga pakan tetap terjangkau sehingga peternak tidak semakin tertekan oleh biaya produksi.
"Nanti kita menunggu rakortas di Kemenko Pangan, sehingga dapat membantu peternak yang menghadapi kondisi relatif harga pakan agak naik sedikit. Kemudian DOC dan lain sebagainya. Dengan adanya tambahan SPHP jagung ini, harapan kita peternak masih bisa membeli pakan dengan harga yang relatif wajar," ujarnya.
Sebagai catatan, program SPHP jagung pakan 2026 telah berjalan sejak awal Mei dengan kuota awal 213.200 ton.
Kuota tersebut terdiri atas 138.650 ton untuk peternak mikro dengan asumsi kebutuhan tiga bulan, 50.370 ton untuk peternak kecil selama dua bulan, dan 24.170 ton untuk peternak menengah selama satu bulan.
Hingga 18 Agustus 2026, realisasi penyaluran baru mencapai 120.310 ton atau 49,97% dari total kuota awal. Jagung tersebut telah diakses peternak di 28 provinsi, dengan jumlah peternak penerima terbanyak berada di Jawa Timur sebanyak 3.672 peternak dan Jawa Tengah 2.012 peternak.
Intervensi pemerintah ini juga ditujukan untuk memperbaiki harga telur di tingkat peternak yang masih jauh di bawah harga acuan pembelian (HAP).
Bapanas mencatat rata-rata harga telur ayam ras di tingkat peternak pada 19 Agustus 2026 hanya Rp22.978 per kilogram (kg), atau 13,29% di bawah HAP sebesar Rp26.500 per kg.
"Perkembangannya di sisi produsen ini masih rendah sehingga kami sedang mengupayakan kenaikan di tingkat produsen. Mungkin akan berefek pada IPH (Indeks Perkembangan Harga) nantinya. Tapi kalau kita melihat di sisi konsumen memang juga masih di bawah Rp30.000," jelas Ketut.
Sementara itu, harga ayam broiler di tingkat peternak tercatat Rp24.849 per kg, atau 0,6% di bawah HAP. Di tingkat konsumen, harga rata-rata telur ayam berada di Rp28.097 per kg dan daging ayam Rp40.639 per kg.
Ketut mengatakan pemerintah akan terus melakukan intervensi agar harga di tingkat produsen maupun konsumen bergerak sesuai harga acuan.
"Kalau daging ayam ras memang mengalami sedikit kenaikan tapi masih relatif di posisi harga acuan dan bahkan kalau di tingkat produsen masih di bawah HAP. Nah tentu di tingkat konsumen ada beberapa yang memang sudah tinggi di atas HAP, maka pemerintah secara bersama melakukan langkah-langkah intervensi yang bisa dilakukan," katanya.
Baca Juga: Dorong UMKM Naik Kelas, BI Siapkan Tiga Jurus
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














