kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.902.000   75.000   2,65%
  • USD/IDR 17.010   -39,00   -0,23%
  • IDX 7.200   152,19   2,16%
  • KOMPAS100 995   23,62   2,43%
  • LQ45 732   16,48   2,30%
  • ISSI 256   4,99   1,99%
  • IDX30 397   8,50   2,19%
  • IDXHIDIV20 495   7,54   1,55%
  • IDX80 112   2,64   2,41%
  • IDXV30 137   1,34   0,99%
  • IDXQ30 129   2,52   1,99%

Bank Indonesia Kembali Pertahankan BI-Rate di Level 4,75% Pada RDG Februari 2026


Kamis, 19 Februari 2026 / 14:42 WIB
Bank Indonesia Kembali Pertahankan BI-Rate di Level 4,75% Pada RDG Februari 2026
ILUSTRASI. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Bank Indonesia kembali menahan BI-Rate di 4,75%. Keputusan ini demi stabilisasi rupiah dan inflasi. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar pada 18-19 Februari 2026.

Bukan hanya suku bunga acuan atau BI rate, suku bunga deposit facility juga dipertahankan di level 3,75%, dan suku bunga lending facility dipertahankan pada level 5,50%.

Gubernur BI Perry Warjiyo membeberkan, keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini pada upaya penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, guna mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi.  

Baca Juga: Indonesia-AS Sepakati Kerjasama Dagang dan Investasi US$ 38,4 Miliar

“Ke depan, BI akan terus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini dengan tetap mencermati ruang penurunan suku bunga BI-Rate lebih lanjut,” tutur Perry dalam konferensi pers, Kamis (19/2/2026).

Keputusan pemangkasan suku bunga tersebut sejalan dengan dengan prakiraan inflasi 2026-2027 yang terkendali dalam sasaran 2,5% plus minus 1%, serta turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Perry membeberkan, kebijakan makroprudensial BI  tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan (pro-growth) termasuk dengan meningkatkan efektivitas Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mempercepat penurunan suku bunga dan meningkatkan pertumbuhan kredit/pembiayaan ke sektor riil, khususnya sektor-sektor prioritas Pemerintah, serta mempercepat penurunan suku bunga kredit perbankan melalui implementasi kebijakan insentif KLM dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian dan prudensial di perbankan.

Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia Meningkat pada Kuartal IV 2025, Ini Faktor Pendorongnya

Kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif melalui perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, dan peningkatan daya tahan infrastruktur sistem pembayaran.

Selanjutnya: Transaksi Ziswaf Bank Muamalat Tumbuh Hampir 25%

Menarik Dibaca: Momen Bukber Lebih Hemat: Promo Domino's & Bakmi GM Tawarkan Diskon Spesial!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×