kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.413.000   30.000   1,26%
  • USD/IDR 16.702   47,00   0,28%
  • IDX 8.509   -37,16   -0,43%
  • KOMPAS100 1.173   -6,40   -0,54%
  • LQ45 846   -6,27   -0,74%
  • ISSI 301   -0,86   -0,28%
  • IDX30 436   -3,82   -0,87%
  • IDXHIDIV20 504   -3,85   -0,76%
  • IDX80 132   -0,78   -0,59%
  • IDXV30 138   0,50   0,36%
  • IDXQ30 139   -1,24   -0,89%

Banjir Sumatra, Pengamat Ingatkan Penanganan Kesehatan saat Bencana


Sabtu, 29 November 2025 / 10:19 WIB
Banjir Sumatra, Pengamat Ingatkan Penanganan Kesehatan saat Bencana
ILUSTRASI. Foto udara limpahan banjir bandang di kawasan Pasar Baru, Padang, Sumatera Barat, Jumat (28/11/2025). Banjir bandang terjadi pada Jumat (28/11/2025) dini hari dan semakin meluas akibat jebolnya bendungan Gunung Nago di Pauh, sehingga mengakibatkan jembatan putus, sejumlah rumah rusak dan warga mengungsi. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/sgd


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Putri Werdiningsih

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bencana yang melanda sebagian wilayah Pulau Sumatra menuntut respons cepat, terutama dalam aspek kesehatan masyarakat. 

Pakar kesehatan sekaligus Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama, menekankan sejumlah langkah penting yang harus segera dijalankan untuk mencegah dampak kesehatan yang lebih besar di wilayah terdampak.Ia menjelaskan, terdapat enam langkah utama dalam penanganan kesehatan saat bencana.

“Pertama adalah melakukan penilaian cepat mengenai kebutuhan mendesak atau rapid needs assessments,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Kontan pada Jumat, (28/11/2025).

Setelah itu, diperlukan evaluasi sumber daya yang ada dibandingkan dengan kebutuhan yang diperlukan. 

“Pengaturan pelayanan kesehatan, dari primer, sekunder hingga tersier di sekitar daerah bencana sebaiknya jadi prioritas utama,” lanjut Tjandra.

Baca Juga: Kemenhut Kembangkan Aplikasi Pemantauan Mitigasi Banjir untuk Peringatan Dini

Langkah berikutnya mencakup upaya promotif dan preventif di lapangan guna mencegah dampak kesehatan lanjutan. Selain itu, Tjandra menegaskan untuk segera menerapkan strategi pengendalian penyakit, baik menular maupun tidak menular yang kronik.

Ia pun menyoroti  perlunya evaluasi berkala serta penyempurnaan rencana kontinjensi untuk antisipasi bencana di masa depan.

Terkait bantuan mendesak, ia menyebut empat kebutuhan utama yang harus segera dipenuhi, di antaranya ketersediaan air bersih, makanan sehat, alat kesehatan rutin harian, serta tenaga kesehatan beserta obat-obatan dan peralatan yang memadai.

Baca Juga: Kayu Gelondongan Terbawa Banjir di Sumut, Ini Penjelasan Kemenhut

Tjandra pun mewanti-wanti terkait potensi meningkatnya penyakit menular setelah bencana. 

“Perlu diwaspadai setidaknya empat jenis penyakit, yaitu yang ditularkan melalui air, makanan, penyakit paru dan pernapasan, serta penyakit yang menular lewat kontak langsung antar manusia,” tuturnya.

Selain penyakit menular, kondisi penyakit tidak menular (PTM) juga rentan memburuk dalam situasi darurat. Pola makan tidak teratur dapat mengganggu metabolisme dan memperburuk diabetes, sementara penyakit paru kronik seperti PPOK dapat mengalami eksaserbasi akut.

Tjandra juga melihat risiko perluasan kelompok rentan dalam kondisi bencana.

“Biasanya yang kita sebut kelompok rentan adalah lansia, anak-anak, dan mereka dengan komorbid. Tetapi pada keadaan bencana, masyarakat umum yang rumah atau desanya terdampak dapat menjadi rentan pula,” pungkasnya.

Selanjutnya: Main Character in Sydney! From Cozy Coffee at The Rocks to Chill Vibes in Manly

Menarik Dibaca: Promo Alfamart Beli 1 Gratis 1 & Beli 2 Gratis 1, Berlaku 29-30 November 2025

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×