kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45920,31   -15,20   -1.62%
  • EMAS1.345.000 0,75%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Badan Karantina empat tahun ini tembus komoditi potensial


Selasa, 20 November 2018 / 10:34 WIB
Badan Karantina empat tahun ini tembus komoditi potensial
ILUSTRASI. Ekspor Kopi Olahan Nasional Tembus US$ 469 Juta


Reporter: Kiki Safitri | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID - BOGOR. Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian (Kemtan) dalam empat tahun terakhir melakukan berbagai upaya untuk menembus ekspor komoditi pertanian lokal.

Menurut Banun Harpini, selaku Kepala Barantan, upaya tersebut adalah dengan perundingan Sanitary and Phytosanitary (SPS) kepada negara importir.
“Ada suatu kerja keras untuk ekspor. Prestasi kinerja ekspor itu merupakan upaya dari pelaku usaha dan pemerintah selama 4 tahun memenuhi persyaratan teknis yang rada alot dan selama 4 tahun badan karantina melakukan perundingan dengan 18 negara baik bilateral maupun kaukus kerja sama,” jelasnya.

Banun menyebut bahwa perundingan di bidang standar SPS dan protocol SPS dilakukan dengan 18 negara dalam bentuk PTA (Preferential Trade Agreement), FTA (Free Trade Agreement) dan CEPA (Comprehensive Economis Partnership Agreement).

Untuk komoditas dengan kasus SPS, Barantan lakukan perundingan penyelesaian kasus SPS seperti pada komoditas CPO, Pala, Kopi, Teh, Manggis dan Salak. Agar komoditas ini dapat tembus dan tidak terhambat di negara mitra dagang.

“Terhitung 4 tahun, sudah ada 4 hasil perjanjian SPS untuk akselerasi Ekspor Produk Pertanian Indonesia, yakni masing-masing Indonesia – Australia Comprehensive Economic Partnership Agrement (CEPA),” jelasnya.

Adapun komoditi ekspor yang sudah memenihi SPS di ekspor ke empat titik, seperti ke Autralia dengan komoditi potensial lokal seperti coklat, manggis, salak, kopi dengan nilai ekspor US$ 667,8 Juta untuk estimasi hingga akhir 2018. Untuk Indonesia - Cile CEPA, komoditi ekspor yang dilakukan adalah CPO (Curde Palm Oil) dan Jagung dengan nilai estimasi hingga akhir tahun US$ 143,8 juta.

Selanjutnya, ASIAN Hongkong China FTA dengan komoditi tepung kelapa, mangga, sarang burung wallet, kopi, madu, coklat, teh, reptil dengan estimasi nilai ekspor hingga akhir tahun US$ 3 miliar. Sedangkan Indonesia-EFTA CEPA Indonesia (European Free Trade Association) dengan ekspor komoditi rempah-rempah, kakao, kopi, teh, produk kayu, ikan dengan estimasi nilai ekspor sampai dengan akhir tahun senilai US$ 1,2 miliar.

Banun menyebut kinerja ekspor di sektor pertanian menunjukan hal yang positif. Hal itu tercermin dari kenaikan nilai ekspor sektor pertanian yang bertumbuh 24% dengan nilai ekspor di sektor pertanian mencapai sekitar Rp 440 triliun di tahun 2017.

“Dibalik pertumbuhan ekspor 24% atau setara dengan nilai Rp 441,9 triliun yang dapat dicapai di tahun 2017, ada upaya yang sangat keras dalam mendukung pencapian tersebut. Diawali dengan meja perundingan yang sejak 4 tahun terakhr, tahun 2015 hingga 2018,” kata Banun di Bogor, Senin (19/11).

Lebih detail, Barantan lakukan penyusunan Perjanjian Protokol Karantina dengan Negara tujuan, mempercepat pemenuhan protokol karantina, dengan melakukan proses Inline Inspection bersama petani. Untuk akses percepatan secara elektronik juga dilakukan dengan pertukaran data E-cert atau elektronik certificate yang dikirim ke negara tujuan.

“Saat ini sudah 3 negara yakni Australia, New Zealand dan Belanda, dan sedang proses penyetaraan sistem dengan negara Jepang, Amerika dan Singapura,” ujarnya.

Barantan di 4 tahun terakhir juga lakukan perluasan negara tujuan ekspor baru yaitu Ukraina, Timor Leste, dan Papua Nnugini. Termasuk menambah komoditas/produk baru ke negara-negara mitra dagang tradisional, misalnya salak ke New Zeland, mangga dan manggis ke Australia, manggis, PKE (Palm Kernel Expeller), produk kayu dan durian ke Tiongkok, bunga krisan, pisang, nenas ke Jepang, kelapa dan produknya ke India serta Amerika Serikat, kemudian ke Philipina adalah PKE.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×