kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.677.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.825   -17,00   -0,10%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Target Rupiah Rp17.500 Masih Realistis, Yield SBN 6,9% Lebih Menantang


Senin, 17 Agustus 2026 / 17:43 WIB
Target Rupiah Rp17.500 Masih Realistis, Yield SBN 6,9% Lebih Menantang
ILUSTRASI. Target nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS yang ditetapkan pemerintah dalam RAPBN 2027 dinilai masih berada dalam jangkauan (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Target nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS yang ditetapkan pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 dinilai masih berada dalam jangkauan. Namun, target imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sebesar 6,9% dinilai membutuhkan kondisi pasar yang lebih mendukung.

Untuk diketahui, Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyampaikan RAPBN 2027 dalam pidato penyampaian RUU APBN 2027 dan Nota Keuangan di DPR RI, Jumat (14/8/2026). Pemerintah menargetkan ekonomi tumbuh 6%, dengan belanja negara Rp4.097,2 triliun dan pendapatan negara Rp3.426 triliun.

Pemerintah juga menetapkan sejumlah asumsi makro untuk 2027. Salah satunya nilai tukar rupiah yang ditargetkan berada di level Rp17.500 per dolar AS. Sementara itu, yield SUN tenor 10 tahun dipatok sebesar 6,9%.

Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede, menilai target rupiah tersebut cukup realistis meski cenderung sedikit optimistis. Sebaliknya, target imbal hasil SBN 10 tahun sebesar 6,9% dinilai memiliki tantangan yang lebih besar.

Baca Juga: Target Investasi 2027 Naik Menjadi Rp 2.322 Triliun, Hilirisasi Terus Didorong

Pada perdagangan Jumat (14/8/2026), setelah RAPBN 2027 disampaikan, rupiah berada di sekitar Rp17.825 per dolar AS. Pada saat yang sama, imbal hasil SBN tenor 10 tahun turun ke sekitar 7,18%.

“Jadi, untuk rupiah, saya menilai asumsi pemerintah masih cukup kredibel, dengan syarat tekanan harga minyak mereda, arus modal kembali membaik, BI mempertahankan kredibilitas stabilisasi nilai tukar, dan defisit transaksi berjalan tidak melebar berlebihan. Untuk SBN, situasinya berbeda,” ujar Josua kepada Kontan, Sabtu, (15/8/2026).

Menurut Josua, target yield 6,9% memang hanya sekitar 28 basis poin di bawah posisi pasar pada 14 Agustus. Namun, asumsi dalam RAPBN merupakan rata-rata tahunan, sehingga pencapaiannya tidak cukup hanya melihat kondisi pasar pada satu hari perdagangan.

Josua menjelaskan, salah satu tantangan terbesar berasal dari perkembangan pasar global. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun baru-baru ini berada di sekitar 4,68%, menjadi yang tertinggi dalam lelang sejak 2007. Kondisi tersebut dipengaruhi tekanan inflasi, besarnya defisit fiskal AS, serta tingginya pasokan obligasi.

Dengan kondisi tersebut, Josua menilai target yield SUN tenor 10 tahun sebesar 6,9% pada 2027 bukan sesuatu yang mustahil. Namun, angka tersebut tergolong sebagai asumsi yang relatif optimistis.

“Angka tersebut lebih mudah tercapai pada semester II 2027 apabila suku bunga global mulai stabil, harga minyak turun dan risiko fiskal Indonesia mereda, jauh lebih sulit apabila tekanan global masih tinggi pada semester I,” jelasnya.

Lima faktor penentu minat asing

Lebih lanjut, Josua menyebut terdapat lima faktor utama yang akan menentukan minat investor asing terhadap aset berdenominasi rupiah pada 2027.

Baca Juga: Prabowo Targetkan PLTS 30 GW Tahun Ini, APLSI:Perlu Buka Lebar Ruang Investasi Swasta

Pertama, kredibilitas realisasi defisit dan penerimaan negara. Kedua, arah suku bunga dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Ketiga, konsistensi Bank Indonesia dalam menjaga inflasi, nilai tukar rupiah, dan cadangan devisa.

Keempat, perkembangan harga minyak serta defisit transaksi berjalan. Kelima, persepsi investor terhadap tata kelola, transparansi, dan peringkat utang Indonesia.

Oleh sebab itu, Josua mengatakan pemerintah sebaiknya tidak semata-mata mengejar biaya pembiayaan yang murah dengan meningkatkan risiko refinancing atau pembiayaan kembali.

Menurut dia, strategi pembiayaan perlu mengutamakan tenor jatuh tempo yang panjang, distribusi penerbitan yang merata, diversifikasi mata uang, pembiayaan lebih awal ketika kondisi pasar kondusif, serta komunikasi fiskal yang konsisten.

Proyeksi rupiah 2027

Mempertimbangkan kondisi saat ini, Josua memproyeksikan rupiah akan bergerak di level Rp17.800-Rp18.000 per dolar AS pada akhir 2026. Selanjutnya, rupiah diperkirakan menguat ke sekitar Rp17.400-Rp17.600 per dolar AS pada akhir 2027.

“Proyeksi titik kami juga menempatkan rata-rata 2027 di Rp 17.599 dan akhir tahun 2026 Rp 17.469, sehingga asumsi RAPBN Rp 17.500 sebenarnya jauh lebih dekat dengan skenario dasar daripada asumsi imbal hasil SBN 6,9%,” jelasnya.

Baca Juga: Market Mulai Kondusif, Ekonom BCA Proyeksikan BI Rate Tetap 5,75% pada RDG Agustus

Sementara itu, untuk yield SUN tenor 10 tahun, Josua memperkirakan levelnya masih akan berada di atas target pemerintah. Ia memperkirakan yield SUN 10 tahun berada di kisaran 7,20%-7,40%, dengan titik tengah sekitar 7,30% hingga akhir 2026.

Memasuki 2027, tekanan terhadap yield diperkirakan masih cukup tinggi pada semester pertama. Josua mengantisipasi adanya kemungkinan kenaikan suku bunga bank sentral AS. Tekanan tersebut kemudian diperkirakan mereda pada semester kedua seiring normalisasi harga minyak dan suku bunga kebijakan BI yang diperkirakan tetap berada di level 5,75%.

Dengan demikian, kisaran dasar yield SUN tenor 10 tahun pada 2027 diperkirakan berada di sekitar 7,10%-7,30%. Meski demikian, lonjakan sementara di atas 7,30% masih berpotensi terjadi pada semester pertama apabila tekanan dari pasar global kembali meningkat.

“Dengan profil tersebut, asumsi 6,9% pemerintah sebaiknya diperlakukan sebagai sasaran optimistis yang membutuhkan penurunan premi risiko, bukan sebagai hasil yang otomatis tercapai,” pungkas Josua.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×