kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.887.000   7.000   0,24%
  • USD/IDR 16.850   -59,00   -0,35%
  • IDX 8.951   -41,17   -0,46%
  • KOMPAS100 1.235   -4,75   -0,38%
  • LQ45 874   -1,52   -0,17%
  • ISSI 329   -0,59   -0,18%
  • IDX30 449   0,67   0,15%
  • IDXHIDIV20 532   3,66   0,69%
  • IDX80 137   -0,49   -0,35%
  • IDXV30 148   1,36   0,93%
  • IDXQ30 144   0,72   0,50%

Apa yang Terjadi Jika Rupiah Tembus Rp 17.000? Ini Skenario Terburuk Menurut Ekonom


Jumat, 23 Januari 2026 / 04:48 WIB
Apa yang Terjadi Jika Rupiah Tembus Rp 17.000? Ini Skenario Terburuk Menurut Ekonom
ILUSTRASI. Jika rupiah tembus Rp 17.000 per dolar, inflasi impor mengancam. Bahan pangan dan cicilan KPR bisa melambung tinggi. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)


Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah melemah menjadi Rp 16.977 per dollar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (20/1/2026). Penurunan nilai tersebut menjadi yang paling buruk sepanjang masa.

Pada Rabu (21/1/2026), nilai rupiah pun tidak membaik secara signifikan, di mana 1 dollar AS sama dengan Rp 16.957.

Jika dibandingkan dengan puncak krisis moneter 1998, nilai tukar rupiah ke dollar AS saat ini juga lebih rendah. Pada 1998, 1 dollar AS setara dengan Rp 16.650 dollar AS. Bahkan, pada saat Covid-19, nilai tukar rupiah masih lebih tinggi dibandingkan kali ini.

Lantas, apa yang terjadi jika rupiah melemah dan menembus Rp 17.000 per 1 dollar AS?

Yang terjadi jika rupiah terus melemah

Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Economic Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, pergerakan rupiah yang terus merosot hingga tembus Rp 17.000 per dollar bakal menimbulkan dampak buruk bagi perekonomian Indonesia.

"Kalau rupiah tembus di atas Rp 17.000 per dollar akan terjadi imported inflation. Inflasi yang disebabkan naiknya biaya impor," kata dia, saat dihubungi Kompas.com, Rabu (21/1/2026).

Imported inflation adalah inflasi yang terjadi di suatu negara akibat kenaikan harga barang atau jasa yang diimpor dari luar negeri. Kondisi ini bisa terjadi karena depresiasi nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing.

Baca Juga: BI Bawa QRIS ke China dan Korea Selatan pada Q1 2026

Masyarakat juga akan ikut terdampak melemahnya rupiah seperti yang pernah terjadi di Indonesia pada 1998.

"Bahan pangan yang berasal dari impor lebih mahal, inflasi naik daya beli turun. Cicilan motor dan KPR ikut naik karena komponen impor otomotif dan rumah turut mempengaruhi harga jual barang," tutur Bhima.

Bagi pelaku usaha, Bhima menilai, penurunan nilai mata uang rupiah terhadap dollar AS bisa membuat mereka kesulitan untuk bersaing, terutama lini usaha yang bergantung pada bahan baku. Akibatnya, pemutusan hubungan kerja (PHK) bakal menjadi skenario paling buruk.

Di sisi lain, utang pemerintah terutama yang berasal dari kreditur luar negeri juga diperkirakan menjadi lebih mahal.

"Bunga dan cicilan utang makin memperlebar defisit APBN," terang Bhima.

Sayangnya, ekonomi tersebut memperkirakan bahwa tren pelemahan rupiah masih akan berlanjut.

"Tren pelemahan rupiah masih akan berlanjut. Utak atik pencalonan deputi gubernur BI ikut menambah depresiasi kurs," tandasnya.

"Strateginya dengan pembatalan pencalonan Thomas Djiwandono dan memperkecil defisit APBN serta mendorong ekspor ke negara alternatif," imbuh Bhima.

Baca Juga: Presiden Prabowo Masuk Daftar 13 Pemimpin Dunia yang Berpidato di WEF Davos 2026

Dikutip dari Kompas.id, pencalonan Wakil Menteri Keuangan Thomas Aquinas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia dinilai berisiko memperburuk nilai tukar rupiah di tengah sentimen global. Hal ini karena penugasan pemimpin bank sentral seharusnya diberikan kepada orang-orang yang memiliki pemahaman mendalam soal kebijakan moneter dan sistem keuangan.

Sementara itu, pengalaman Thomas di bidang ekonomi di antaranya adalah menjadi analis keuangan di NatWest Market, Jakarta, pada 1996 dan konsultan di Castle Asia pada 1999. Dia juga sempat berkarier di Comexindo Internasional selama 2010-2024 serta di Arsari Group pada 2011-2024.

Menurut laman resmi Kementerian Keuangan, Thomas tercatat sebagai alumni sarjana Studi Sejarah di Haverford College, Amerika Serikat, pada 1994. Pada 2003, dia meraih gelar Master of Arts di bidang Hubungan Internasional dan Ekonomi Internasional dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat.

Penyebab rupiah melemah

Menurut analisis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong, melemahnya nilai tukar rupiah tidak terlepas dari kekhawatiran pasar terhadap prospek defisit anggaran yang berpotensi melewati batas 3 persen dan ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan BI. Kedua faktor tersebut mendorong investor bersikap lebih defensive terhadap aset berdenominasi rupiah.

"Penyebabnya masih sama, kekuatiran defisit anggaran melewati 3 persen dan prospek pemangkasan suku bunga BI," kata dia, dilansir dari Kompas.com, Senin (19/1/2026).

Lukman menambahkan, nasib rupiah bergantung pada pertemuan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI). Arah komunikasi kebijakan BI selanjutnya akan nilai menentukan persepsi pasar, khususnya terkait komitmen menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.

Lukman memprediksi, hingga saat ini, ada potensi nilai tukar Rupiah terhadap dollar tembus di Rp 17.000, tetapi kemungkinan tersebut belum tentu terjadi.

Sementara itu, Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai, pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) kemungkinan tidak direspons positif oleh pasar.

Tonton: Prospek Bitcoin vs Emas 2026: Aset Aman Mana?

”Saya khawatir market tidak memberikan respons positif terhadap beliau. Ini juga akan berpengaruh pada rupiah kita yang nanti bisa semakin tertekan. Sekarang saja sudah nyaris ke Rp 17.000 per dolar AS,” ujarnya, dikutip dari Kompas.id.

Persoalan lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Bhima sendiri menyebut, secara historis, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sangat sulit kembali di bawah Rp 16.700.

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul "Apa yang Terjadi jika Rupiah Melemah dan Tembus Rp 17.000? Ini Kata Ekonom"

Selanjutnya: Promo JSM Superindo Periode 23-25 Januari 2026, Buah Naga-Kecap ABC Diskon hingga 60%

Menarik Dibaca: Promo JSM Superindo Periode 23-25 Januari 2026, Buah Naga-Kecap ABC Diskon hingga 60%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×